MENGANTISIPASI BANYAK HAL YANG BELUM BISA DIDUGA: KOMUNITAS IMAN KRISTEN SETELAH COVID-19

Tahun 2020 diawali dengan sebuah disrupsi besar yang terbangun sejak bulan Januari: Covid-19. Pandemi ini terbukti memporak-porandakan semua tatanan hidup di seluruh dunia, politik, ekonomi, pendidikan, keagamaan, apalagi kesehatan. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengulang paparan fakta yang sudah banyak bertebaran setiap hari dengan dominasi panggung virtual, namun memfasilitasi kita semua menuju masa depan dalam sebuah posisi antisipatif.

Fokus pembahasan pada “Keluarga Kristen” bukan menjadi target tunggal karena keluarga tidak mungkin dipisahkan dan menjadi bagian dari komunitas lain seperti gereja dan sekolah (Kristen). Karena itu, harapannya, seluruh elemen Komunitas Iman Kristen bisa bergerak bersama menuju masa depan. Berikut adalah beberapa pemikiran yang terbuka untuk didiskusikan.

1. Menerima Kenyataan Titik-Tidak-Bisa-Balik (TTBB) atau Point of No Return

Fakta utama yang harus diterima adalah akan banyak kondisi di masa depan yang tidak bisa dikembalikan menjadi yang semula. Sebagai contoh: cara (akan menjadi kebiasaan) beribadah, pengertian tentang pendidikan dan persekolahan, cara mencari nafkah, prosedur higienis pribadi, dan masih banyak lagi. Untuk itu diperlukan beberapa kesadaran dalam menerima dan berjuang “hidup” setelah pandemi ini.

 Pertama, jangan hidup di masa lalu sehingga memberontak terhadap lingkungan dengan berkata, “Dulu kan ….?” Janganlah bersikap seakan-akan “business as usual”. Jangan pula terus mengeluh dan mengasihani diri. Penolakan dan pengabaian realitas TTBB akan memperburuk suasana hidup. Masa lalu harus dijadikan bekal untuk menapak masa depan. Berikutnya adalah kerelaan untuk berubah dan keberanian untuk belajar hal-hal baru. Pasti banyak pengetahuan baru, sikap hati baru, dan ketrampilan baru yang diperlukan. Jika kita tidak rela Text Box:  mengusahakannya, maka kehidupan akan menjadi makin berat. Rela memaksa diri dan memaksa diri untuk rela! Selanjutnya, walau saat ini kita semua dibatasi oleh physical distancing dan social distancing, mohon disadari bahwa kita tidak sendirian dan tidak bisa berusaha sendirian. Manfaatkan komunitas, khususnya Komunitas Iman Kristen: Gereja, Sekolah Kristen, Lembaga lainnya. Usaha bersama selalu lebih efisien, memunculkan semangat, dan stronger together! Kerendahan-hati dan keberanian sangat diperlukan. (Untuk kebersamaan dalam mengantisipasi masa setelah pandemic Covid-19 ini, silahkan akses https://www.acsi.id/media/covid-19; atau www.acsi.org.

2. Menetapkan Prioritas: Utamakan Yang Utama (Set the First Thing First)

Setiap keluarga memiliki proses penetapkan prioritas masing-masing dan artinya susunan prioritas akan menjadi relatif. Demikian pula dengan gereja dan sekolah, masing-masing memiliki hirarki prioritas yang berbeda dengan milik pihak lain. Namun, melalui tulisan ini, penulis ingin “mengemis” (begging) kepada Anda semua untuk mengutamakan kesejahteraan (well-being) anak-anak, generasi masa depan, baik penerus keluarga, gereja, dan masyarakat! Tolong letakan anak-anak sebagai prioritas tertinggi dari semua usaha untuk bertahan hidup. Implikasinya adalah mengorbankan kepentingan elemen-elemen lain, misalnya: pengeluaran untuk gaya hidup, program-program yang tidak berdampak langsung bagi anak-anak, hal-hal yang bersifat kosmetik lainnya.

Referensi:https://blog.acsi.org/well-being-in-the-midst-of-covid-19?fbclid=IwAR0_1XTMD-JzQvM9-7BfPy0HXvr6xWuWU495kOXXu-TQ1yWpj5Un9QyI9A4#ChristianSchool

3. Berinovasi Bersama

Salah satu cara ampuh menghadapi disrupsi adalah dengan berinovasi. Untuk berinovasi diperlukan kemampuan berpikir kritis, kreatifitas, mejajagi berbagai kemungkinan, keberanian mencoba, dan bekerjasama. Keluarga, sekolah, dan gereja harus mampu memunculkan program-program luar biasa bagi masa yang yang tidak biasa sekarang ini (extra ordinary programs for extra ordinary time like this). Paksalah diri untuk berpikir di luar “kotak” (out-of-the-box). Berikut adalah beberapa pokok pikiran yang bisa dijajagi dan dicoba. Catatan: penulis terbuka untuk mendiskusikannya.

Untuk Orang Tua/ Keluarga

Parenting for Academic Development”. Parenting tidak bisa diterjemahkan secara sempurna ke dalam Bahasa Indonesia. Yang harus disadari adalah bahwa mendidik anak-anak merupakan mandat yang diberikan Tuhan kepada orang tua (Ulangan 6) demi menjamin masa depan yang memungkinkan mereka menikmati “susu dan madu”. Dan untuk sekian lama orang tua menyerahkan perkembangan akademik anak-anaknya kepada sekolah formal. Bahkan sampai ada istilah bahwa sekolah itu seperti tempat “jin buang anak”. Selama ini para gurulah yang menjadi ujung tombak pengembangan kwalitas akademik anak-anak di tengah persepsi buruk gengsi dan imbal balik finansial dari profesi guru. Pada masa pendemi ini, pemerintah melarang dan menghentikan kelas-kelas fisik mulai PAUD sampai Pendidikan Tinggi, entah sampai kapan. Akibatnya, khususnya untuk anak-anak kecil, orang tua harus menggantikan peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran yang sementara (atau seterusnya) dialihkan ke rana daring. Jadi “Parenting for Academic Development” sederhananya meminta orang tua belajar tentang “parenting” dan “pengembangan akademik anak-anak”, serta bagaimana menghubungkan keduanya.  Jika diperlukan dan dikehendaki, penulis siap untuk memfasilitasi diskusi di https://www.facebook.com/groups/552205704929368/ (Facebook Group: Indonesian Christian Parenting Forum).

Hal lain yang harus dilakukan adalah manajemen akses virtual. Anak-anak memerlukan akses ke dunia maya pada hari-hari ini untuk belajar, namun orang tua harus mencoba mengatur begitu rupa agar ada control yang diterapkan bagi anak-anak, termasuk bagi orang tuanya. Tujuannya supaya tidak anak siapapun yang terjebak dan terpenjara dalam dunia maya, tapi masih bisa merelasi dengan dunia nyata. Perlu disadari bahwa anak belum mematangkan pengendalian diri sehingga masih membutuhan pengawasan dan kontrol. Banyak perangkat lunak dan sistem yang bisa dipakai untuk hal ini.

Alternatif lain bagi orang tua yang memang kondisi finansialnya sangat sulit adalah home schooling. Ada banyak komunitas yang bisa dijadikan rujukan untuk pelaksanaannya dan pemberdayaan orang tua dalam memfasilitasi pembelajaran di rumah ini. Demikian juga ada banyak kurikulum yang bisa dijadikan pilihan baik dari dalam maupun luar negeri. Perkumpulan Homeschooler Indonesia (https://phi.or.id/) dan Seven Star Academy (https://sevenstar.org/) hanya dua dari sekian sumber yang bisa dipelajari.

Untuk Sekolah

Pengembangan program dan platform “Learning Management System” (LMS). Beberapa tahun belakangan dunia pendidikan diramaikan dengan konsep Education 4.0 yang menjadi topik banyak seminar namun belum secara utuh dipahami. Dengan pandemik ini, pemerintah “terpaksa” menggiring atau memaksa sekolah-sekolah bergerak lebih dekat ke arah itu. Namun sayang, ketidak-siapan sekolah-sekolah (khususnya para guru) menjadikan blended learning hanya sebatas konperensi tatap muka video dan pengiriman materi-materi kurikulum (dokumen power point atau pdf, rekaman audio-video, dokumen2 LKS). Maka sekolah harus menyadari beberapa hal yang hilang dari proses belajar daring yang sudah berjalan hampir dua bulan ini, misalnya: validitas pengukuran dan evaluasi pembelajaran, dinamika manajemen kelas untuk pembelajaran yang optimum, dan individualized learning program untuk anak-anak berkesulitan-belajar (belum tentu berkebutuhan khusus). LMS program dan platform akan sangat membantu dalam hal ini. Dan untuk memahami seluk beluk proses Pendidikan Kristen, sila periksa tautan berikut: www.acsi.id/programs/certification/cec?o=terbaru

Peninjauan ulang anggaran sekolah. Pandemik ini sudah memporak-porandakan stabilitas ekonomi hampir semua negara di dunia lebih buruk dari krisis 1997-98, 2008, dan 2018. Akan banyak orang tua yang akan kesulitan untuk membayar uang sekolah dan nantinya uang masuk/ uang Gedung/ uang daftar ulang; di lain pihak sekolah harus tetap (mengusahakan) terus menggaji guru dan staf mereka. Para pimpinan harus menghitung ulang biaya tidak terpakai dan biaya yang tidak bisa tidak (harus) dipakai pada masa darurat ini untuk mencari kemungkinan pengurangan uang sekolah, dan yang lebih penting adalah merencanakan masa depan dengan strategi keuangan inovatif. Mungkin sudah waktunya sekolah menghentikan investasi fisik di sarana gedung/ properti dan infrastruktur fisik serta mengalihkan ke investasi soft-ware (inovasi program pembelajaran) dan brain-ware (sumber daya manusia). Pemakaian simpanan dana dan bahkan likuidasi properti mungkin harus menjadi pertimbangan. Untuk pencerahan masalah ini, sila buka https://community.acsi.org/coronavirusresources/home.

Mempererat hubungan masyarakat. Sekolah harus mulai mengembangkan relasi dengan gereja, lembaga-lembaga Kristen, dan komunitas-komunitas lain demi berinovasi bagi masa depan anak-anak. Jajagi kolaborasi demi keberlangsungan pendidikan generasi penerus kita. Sekali lagi, focus pada prioritas masa depan anak-anak kita harus menjadi utama.

Untuk Gereja

Pengembangan program dan platform Ministry Management System (MMS). Seperti proses Pendidikan di sekolah, formasi rohani jemaat (khususnya anak-anak) memerlukan interaksi, dinamika relasi non-maya, individualized connection, dan pengukuran pencapaian. MMS bisa membantu supaya kehidupan bergereja bukan sekedar menonton video khotbah, transfer persembahan lewat daring, dan pertemuan daring. Bagaimana mengelola koinonia bagi pertumbuhan rohani menjadi sangat penting. Usaha ini juga harus dilakukan dalam koordinasi dan kolaborasi dengan sekolah-sekolah khususnya Sekolah Kristen, yang selama ini mendominasi waktu hidup anak-anak kita sampai 35 jam seminggu mulai PAUD sampai perguruan tinggi.

Macam-macam Community Development (CD) Programs (Program-program Pengembangan Masyarakat). Banyak gereja sudah memiliki program-program semacam ini, khususnya dimasa pandemik ini. Sayangnya banyak program CD oleh gereja-gereja yang tidak berkelanjutan (un-sustainable), belum membangun kapasitas (non-capacity building), dan tidak dikelola secara professional oleh ahli CD. Lepas dari semua kekurangan yang ada, sekali lagi, penulis ingin mengalihkan fokus program-program CD tersebut Kembali kepada masa depan anak-anak kita. Mulailah berpikir untuk menyediakan bea siswa kerja (working grant scholarship) bagi anak-anak yang orang tuanya terkena PHK sehingga anaknya tetap bisa bersekolah dan orang tuanya bisa bekerja. Sistem untuk pelayanan ini pasti bisa dikembangkan oleh para pimpinan gereja sehingga bukan sekedar mengumpulkan uang lalu semuanya dibelikan APD (Alat Pelindung Diri) atau PPE (Personal Protection Equipment). Bermacam-macam UMKM (Usaha Mikro – Kecil – Menegah) perlu dikembangkan untuk menjalankan roda ekonomi di bagian dasar piramida ekonomi-sosial masyarakat. Paradigma baru fungsi diakoniadan marturiamenjadi perlu dikembangkan.

15 April 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D.

(Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Comments

  • Artikel ini sungguh memotivasi saya sebagai guru utk dapat terus mengupgrade diri di tengah kondisi pendidikan yg tidak bisa diprediksikan.. terima kasih

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *