Memformulasikan Pendidikan Kristen Setelah Covid-19

Awal Mei 2020 yang lalu, dalam sebuah seminar online meresponi masa pandemic dan menyongsong sebuah “new-normal”, kembali Mendikbud RI menyampaikan 6 Profil Dasar Pembelajar (https://www.youtube.com/watch?v=bfx2qfZHJC8, diakses 6 Mei 2020): 1) Menalar/Berpikir Kritis, 2) Mandiri, 3) Berakhlak Mulia, 4) Humanistik/Kebhinekaan Global, 5) Kolaborasi/Gotong Royong, 6) Kreatif/Inovatif. Wacana ini sudah beberapa kali dilempar mungkin dengan tujuan menggiring sekolah menuju ke sana. Namun, setahu penulis, belum ada Permen atau SK Mendikbud yang dibuat untuk menjadi acuan penerapan langkah-demi langkah menuju utopia tersebut.

            Ada juga kiriman bersliweran lewat whatsapp group sebuah dokumen yang diberi judul “Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035”. Dokumen ini diberi label “Draft – Rahasia” namun beredar luas. Sekali lagi, jika dokumen tersebut valid, belum ada panduan resmi dari Departemen Pendidikan yang menolong sekolah-sekolah keluar dari krisis pandemic Covid-19 yang sedang berlangsung. Belum lagi dokumen tersebut tidak memperhitungkan peristiwa politik Pilkada 2020 dan Pilpres 2024 yang punya potensi besar membuyarkan road map tersebut.

            Semua sekolah, termasuk sekolah swasta, di NKRI harus taat pada aturan yang dibuat oleh Kementrian Pendidikan. Namun mengingat masa krisis dan berjalannya waktu tanpa kepastian, sekolah-sekolah sedang kebingungan meneruskan kegiatan operasionalnya. Apakah mereka harus menunggu kejelasan dari Departemen Pendidikan ketika mereka juga sibuk menangani proses up-skill para pengangguran dan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) lewat Kartu Prakerja? Ataukah para pimpinan sekolah harus menunggu juga kepastian berakhirnya pandemi ini dan dibukanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)? Tulisan ini mendorong untuk tidak menunggu kepastian apapun tapi mulai berinisiatif mengantisipasi proses pendidikan menuju new normal! Beikut adalah beberapa hal yang harus dipikirkan ulang dan diputuskan oleh sekolah, khususnya Sekolah Kristen.

1. Siapkan 2 Atau 3 Skenario Untuk Schooling (Persekolahan)

Skenario yang dimaksud adalah komposisi antara Home-Based Learning (HBL) dan Tatap Muka Fisik (TMF) di kelas – sekolah. Dari 5 hari sekolah seminggu, berapa hari HBL dan berapa hari TMF. Scenario-skenario ini nanti akan berpengaruh kepada keseluruhan elemen operasional sekolah, seperti biaya utility, infrastruktur, metode, jumlah dan keahlian guru, strategi-strategi program pembelajaran, pemberdayaan orang tua, dan lainnya. Skenario-skenario ini akan membantu semua konstituen untuk memasuki era blended learning (Pembelajaran Campuran) yang pasti menjadi pilihan setelah situasi krisis ini berlalu. Skenario bisa saja disiapkan 100% HBL seperti yang berlangsung sekarang, atau 75% HBL + 25% TMF, atau 50% HBL + 50% TMF, atau yang lain. Setiap skenario bisa diterapkan dengan menyesuaikan situasi dan waktunya. Bahkan diperkirakan akan ada 3 kelompok orang tua & siswa yang memilih salah satu dari skenario di atas dengan alasan kenyamanan dan efisiensi, juga kemungkinan besar pemerintah pusat ataupun daerah akan memaksa sekolah menerapkan salah satu atau beberapa skenario untuk alasan yang sama, seperti pembiayaan, efisiensi perjalanan antar jemput siswa, dan kemacetan kota. Akibatnya pendaftaran siswa baru harus menawarkan semua skenario tersebut dan sekolah harus siap menyajikan semuanya.

2. Fasilitasi Semua Konstituen Untuk Siap & Memahami Blended Learning

Dalam artikel sebelumnya (http://www.ishak.suhonggo.net/2020/05/09/komunitas-iman-kristen-setelah-covid-19/), dianjurkan agar semua pihak menerima Titik-Tidak-Bisa-Balik (TTBB) atau point of no return, sehingga semua pihak-mau atau tidak-harus melanjutkan hidup dan merangkul perubahan. Bagi persekolahan, perubahan itu menuju blended learning!

Mengutip  Horn & Staker dalam buku mereka Blended: Using Disruptive Innovation to Improve Schools, “Blended learning adalah sebuah program pendidikan formal di mana seorang siswa belajar sebagian melalui pembelajaran daring dengan beberapa elemen kendali siswa atas tempat, waktu, cara, dan/ atau tempo serta paling tidak sebagian disupervisi untuk menyempurnakannya dari tempat yang jauh dari rumah” (54). (Dalam “Blended Learning: Looking Ahead to Next Year” oleh Erin Wilcox; https://blog.acsi.org/blended-learning). Silahkan buka tautan tersebut untuk belajar lebih dalam tentang blended learning, Definisi ini mensyaratkan beberapa hal dan menunjukan adanya beberapa transformasi yang harus terjadi.

1. Siswa harus memiliki kemandirian (self-driven) dalam belajar. 2. Guru dan orang tua perlu memperlengkapi diri dengan pemahaman, sikap hati, dan ketrampilan baru untuk menyajikannya. 3. Kerjasama orang tua dan guru harus dibangun. 4. Persepsi masyarakat tentang pencapaian akademis dan prestasi pendidikan.

Transformasi-transformasi ini tidaklah mudah karena dipaksa oleh kedaruratan pandemi ini, harus terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dan merombak kebiasaan yang sudah menjadi kultur selama ini. Untuk itulah inisiasi program-program pemberdayaan bagi semua konstituen harus segera dirancang dan dimulai.

3. Overhauling (Proses “Turun Mesin”)

Overhauling adalah “membongkar total (sebuah mesin atau alat) dengan tujuan memeriksanya dan membetulkannya bila diperlukan” (Google). Proses ini mendesak dilakukan segera demi peluncuran ulang persekolahan di tahun ajaran baru mendatang. Resistensi pasti akan ditemui, namun situasi dan kebijakan pemerintah mendukung sekolah untuk menghadapinya. Jika para pimpinan sekolah ingin meminimalisasi resistensi, maka proses pembongkaran total ini harus dirancang secara inklusif. Semua konstituen diajak untuk un-learn paradigma lama dan perlahan merangkul paradigma-paradigma baru. Makin banyak konstituen yang dilibatkan, makin rendah resistensi yang akan muncul dan makin mulus transisi ke norma baru akan dijalani. Pembongkaran total ini merupakan indikator agilitas (keluwesan dan kelincahan) sebuah organisasi dalam berjuang hidup di masa sulit. Organisasi bahkan perusahaan yang tidak agile pasti akan mati. Harvard Business School memiliki banyak contoh dalam case studies mereka yang membuktikannya. Organisasi besar mati dengan sendirinya karena gagal luwes dan lincah bermain di masa-masa sulit dan dalam jaman inovasi seperti sekarang ini.

Totalitas dalam proses ini, yang pertama, harus melibatkan semua konstituen, pemilik sekolah/ pengurus Yayasan, pimpinan eksekutif, kepala sekolah, guru, staf & tenaga administrasi, orang tua, para siswa, bahkan komunitas iman (gereja/ jemaat). Perombakan total ini harus menjadi proses yang bersifat inklusif supaya transformasi menuju normal baru dimiliki oleh semua. Rasa memiliki proses ini menjadi kunci sukses masa depan sekolah. Para pimpinan tertinggi harus membuka diri dan membuktikan kepemimpinannya di masa darurat seperti ini dan memfasilitasi proses transformasi ini.

Totalitas berikutnya berkaitan dengan semua elemen operasional sekolah seperti model persekolahan yang ditawarkan, kebutuhan infrastruktur, ketrampilan guru, klasifikasi-klasifikasi baru sumber daya manusia (seperti guru khusus online, content designer, content creator, content artist, IT specialist – security, dll.), format anggaran tahunan, pricing uang sekolah – uang gedung, kebijakan & SOP (Standard Operational Procedure); pendek kata: semua. Elemen-elemen tersebut diramu menjadi sebuah bentuk persekolahan (schooling) di era baru. Pembentukan tim kecil untuk memfasilitasi proses bisa dilakukan dengan mengambil anggota dari perwakilan semua elemen internal agar bisa memnyajikan perspektif dari semua lini. Dalam prakteknya, semua anggota tim harus berani mempertanyakan semua norma lama yang selama ini dilakukan, asking the right questions. Setelah itu team harus memikirkan semua isu masak-masak, to think everything through. Jika memang diperlukan, sekolah harus berani mempekerjakan seorang fasilitator atau konsultan yang memahami dan berpengalaman dalam cara meramu sebuah model persekolahan Kristen.

Totalitas lain adalah totalitas eksistensi semua elemen dan keutuhan sebuah komunitas. Perombakan total ini harus diarahkan untuk mencari jawaban bagi masalah yang sedang dihadapi di masa pandemi ini, namun juga mengantisipasi semu kesulitan yang akan muncul ketika sekolah melangkah ke depan. Hati, pikiran, tenaga, sumber daya, waktu, dan yang tidak boleh dilupakan adalah doa!

4. Pengembangan Masyarakat/ Community Development (CD)

Pengembangan masyarakat secara bebas bisa diartikan usaha-usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. CD harus menjadi tugas dan beban tambahan bagi sekolah khususnya Ketika semua lini terdampak oleh pandemic Covid-19 yang menyebabkan kesejahteraan mereka menurun drastis. Mereka di sini adalah murid, orang tua, guru, para staf sekolah, dan termasuk pimpinan sekolah. Penurunan ekonomi (penghasilan) akan menghantam potensi keluarga-keluarga konstituen pasti menimbulkan efek domino yang ujung-ujungnya menghantam sekolah, baik dalam aliran keuangan dan kemudian kwalitas persekolahan.

Sementara ini banyak keluarga yang pasrah menantikan bantuan pemerintah. Sikap ini bisa membangun normal baru: “mental pengemis”. Karena itulah sekolah harus memikirkan beberapa alternatif program CD yang menyentuh keluarga-keluarga siswa, calon siswa, guru, dan staf sekolah lainnya. Inisiasi dan pengelolaan proyek-proyek CD ini harus dilakukan dengan berhati-hati supaya tidak merusak konsentrasi dan proses pendidikan yang berlangsung. Ada program gelar khusus untuk belajar tentang CD dan mungkin sudah tiba saatnya sekolah memikirkan mengirimkan satu atau dua orang untuk khusus belajar dan nantinya menangani bidang ini. Kerberlanjutan sekolah (sustainability) harus menjadi fokus elemen penunjang persekolahan ini.

5. Komunikasi

Komunikasi merupakan katalisator yang menentukan tingkat keberhasilan proses perombakan total di atas. Komunikasi ini bahkan harus mulai sebelum proses perombakan total dilakukan demi pengkondisian dan untuk meningkatkan komitmen terhadap perubahan dan proses perombakan total. Komunikasi publik berfungsi menggalang dukungan spirit/ semangat untuk sekolah dalam melangkah menuju masa depan. Sedangkan komunikasi internal diarahkan kepada kesehatian semua elemen untuk menerima perubahan dan bergerak bersama ke arah yang ingin dituju. Seni mengkomunikasikan perubahan harus bermuara pada bermacam-macam strategi dan media yang digunakan, baik konvensional maupun yang inovatif.

Dalam beberapa situasi, komunikasi merupakan unsur yang makin memperkeruh suasana baik internal maupun di seputar sekolah. Persepsi berkembang menjadi liar dan pada jaman digital media menjadi sarana utama mencari dan menerima informasi, kondisi menjadi tidak terkendali. Kendala-kendala yang muncul dari persepsi yang tidak dikendalikan merupakan hambatan di masa sulit seperti ini. Untuk itulah dan karena itulah para pimpinan tertinggi sekolah harus memberikan perhatian cukup kepada praktek komunikasi publik dan komunikasi internal

Refleksi Akhir

Ada banyak ketidakpastian dalam menyambut tahun ajaran baru. Berharap kepada pemerintah sah-sah saja, namun ada baiknya setiap sekolah berinisiatif dan memulai kembali perjalanannya menuju normal baru, sebuah era baru pendidikan.  Jangan menunggu! Dramatis? Pasti, tapi prosesnya bukan dibuat-buat seperti drakor. Yang dihadapi adalah realita hidup!

23 Mei 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D. (Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *