PARENTING TOWARD THE NEW-NORMAL

Disrupsi yang disebabkan pandemic Covid-19 menyebabkan para orang tua kaget dan gelagapan. Ketika sekolah-sekolah diperintahkan untuk “merumahkan” semua murid, orang tua akhirnya sadar bahwa hal tersebut bukanlah libur, namun lanjutan pembelajaran dilakukan dari rumah. Lambat laun masalah demi masalah menggiring orang tua  kepada peningkatan stres dan memuncaknya frustasi. Jika diurai, maka berikut adalah penyebabnya.

1. Nihilnya program pemberdayaan orang tua baik oleh negara maupun oleh Komunitas Iman Kristen sehingga parenting menjadi instingtif dan didasarkan pada pengalaman masa lalu saja. 2. Terganggunya ritme kehidupan para orang tua. 3. Ketidaksiapan orang tua menjadi fasilitator pembelajaran anak-anaknya. 4. Ketidaktersedianya infrastruktur dan fasilitas untuk home-based-learning. 5. Menurunnya income keluarga dan gangguan baik terhadap bisnis maupun job safety. 6. Physical distancing yang terpaksa dilakukan dan berujung pada perasaan dan kesan terpenjara. 7. Ketidakpastian dan ketidakjelasan pemulihan kehidupan keluarga dan masyarakat, baik waktu maupun bentuknya karena new normal yang diantisipasi oleh dunia.

Kondisi di atas tidak boleh berlangsung terus karena bisa menyebabkan hancurnya unit terkecil masyarakat, keluarga. Dari perspektif Komunitas Iman Kristen, rusaknya keluarga inti akan mengganggu keberlangsungan eksistensi Gereja universal. Untuk itu, penataan kembali kehidupan keluarga harus segera distimulasi dan dimulai. Berikut adalah beberapa perenungan yang bisa dipakai untuk penataan ulang kehidupan berkeluarga, parenting menuju new normal.

A. Mandat dari Tuhan

Anak adalah bagian dari kreatifitas rencana Tuhan pada saat dunia ini diciptakan dan manusia ditempatkan di dalamnya. Kejadian 1:28 menunjukan bahwa anak bukanlah ide belakangan yang muncul di benak Sang Pencipta, namun segera setelah Adam dan Hawa diciptakan, Allah memerintahkan mereka untuk “beranak cucu dan bertambah banyak”. Karena itu, ketika orang tua merasa terbebani, maka mereka harus kembali ingat kepada rencana awal Tuhan yang tidak boleh kita tolak karena Dia menyatakan bahwa “semuanya sangat baik”. Persepsi orang tua harus bergeser dari pembebanan itu menuju rasa syukur karena anak-anak adalah hadiah/ pemberian Tuhan dalam kedaulatanNya (Mazmur 127:3) yang dalam hal ini orang tua tidak bisa memilih/ menentukan berdasarkan keinganan pribadi. Ketika Tuhan mempercayakan anak-anak kepada orang tua, itu adalah tanggung jawab dan kehormatan untuk menggembalakan, mengasuh, menasehati, dan memenuhi kebutuhannya berdampingan bahu membahu dengan Tuhan Si Pemberi (Amsal 22:6; 29:7; Markus 10:16). Bahkan Ketika umat Israel memasuki Tanah Perjanjian dan segera membangun new normal mereka yang baru di Kanaan, Tuhan memberikan mandat khusus lewat Musa agar semua orang dewasa mendidik anak-anak dengan mengajarkan perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan Tuhan berulang-ulang kepada generasi berikutnya demi menjamin kesejahteraan seluruh bangsa (Shema – Ulangan 6:1-10).

B. Kesengajaan (Intentionality)

Secara naluri, orangtua akan memakai cara dan gaya pengasuhan yang pernah dialaminya pada masa saat mereka anak-anak. Jika seseorang menikmati cara pengasuhan orangtuanya, maka dia akan mengadopsinya bagi anak-anaknya. Jika dirasa masa kecilnya tersiksa karena pengasuhan orangtuanya, maka dia akan menyesuaikan dan bahkan memilih cara dan gaya pengasuhan yang berlawanan dengan yang dialaminya.

Dinamika ayah-ibu yang berasal dari dua keluarga asal yang berbeda sering juga membingungkan dan membuat dirinya dan nantinya anak-anaknya memihak ayah atau ibu. Jika hal ini terjadi, maka ada potensi besar bagi anak-anak untuk memainkan ketegangan di antara ayah dan ibu mereka, lalu dengan tidak disengaja mereka bertumbuh menjadi manipulator. Ketika manipulator-manipulator kecil terbentuk, ketegangan dan konflik suami-istri pasti segera meningkat.

Hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil prediksi masalah dinamika parenting dalam keluarga-keluarga masa kini.  Artikel ini mengusulkan KESENGAJAAN untuk mereduksi potensi kehancuran keluarga. Kesengajaan yang pertama adalah oleh para orang tua atau calon orang tua untuk belajar tentang parenting. Ada banyak pengetahuan, sikap hati, dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam menghantar anak-anak menuju kedewasaan, tahap demi tahap. Berikutnya adalah kesengajaan dari Komunitas Iman Kristen dan Pemerintah dalam memprogramkan pembelajaran parenting ini sebelum pernikahan. Kesengajaan berikutnya adalah ketika terjadi disrupsi yang menyebabkan perubahan dramatis yang tidak terantisipasi seperti sekarang ini. Kesengajaan belajar tentang parenting bisa dilakukan dengan cara mengikuti seminar, membaca buku dan menonton video, berdiskusi dengan orang tua lain maupun para narasumber. Sekali lagi, kesengajaan sangat penting untuk memampukan keluarga-keluarga beradaptasi dan mereduksi tekanan dalam keluarga,

C. Well-being

Google mendefinisikan well-being sebagai pengalaman akan kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan; yang memasukan kesehatan mental yang baik, kepuasan hidup yang tinggi, memiliki arti dan tujuan hidup, serta kemampuan mengelola stres. Secara umum, well-being adalah merasa baik-baik saja. Inilah yang harus dijadikan fokus parenting dan pembelajarannya. Dan jika ditelaah lebih dalam, well-being memiliki aspek fisik, psikologis, dan juga rohani. Keutuhan dan totalitas sebuah well-being memerlukan usaha terstruktur dalam mewujudkannya. Menurut Ted Ward dalam “Nurture That is Christian”, dalam pertumbuhannya secara holistik, ada 5 aspek yang harus diperhatikan seperti 5 jari (fisik, intelek, emosi, moral, dan sosial) yang berpangkal pada sebuah telapak tangan (rohani). Untuk mengusahakan well-being, paling tidak 5 aspek tersebut harus diperhatikan karena berhubungan antar satu dengan yang lain.

Di dalam konteks Komunitas Iman Kristen, para konselor memegang peranan besar; namun keutuhan dan totalitas well-being tidak mungkin diwujudkan secara tuntas jika bukan para orang tua yang berinisiatif mengusahakannya. Karena itu para Konselor Pastoral di gereja atau Konselor Pendidikan – Klinis di sekolah harus memperluas horizon mereka ke arah well-being anak-anak dan para orangtuanya. Bukan sekedar pemahaman, namun membangun kerjasama semua pihak sangatlah penting. Keahlian para konselor memang dibutuhkan, namun lebih penting memberdayakan para orang tua atau calon orang tua.

D. Komunitas Pendukung (Support Community)

Hillary Clinton pernah menulis sebuah buku yang diberi judul “It Takes A Village” yang isinya menyimpulkan bahwa diperlukan kerjasama banyak pihak (orang tua, sekolah, gereja) dalam mendidik anak-anak. Saling ketergantungan (co-dependency) harus dibangun melampaui sekedar tahu sama tahu bahwa pihak lain eksis (co-existence). Relasi yang dibangun harus digeser dari relasi kontraktual menuju relasi saling mendukung. Orang tua tidak bisa lagi berpikir bahwa semuanya harus beres dengan pendidikan holistik si anak ketika uang sekolah dilunasi atau uang pesembahan ditransfer ke gereja. Para guru sekolah dan guru Sekolah Minggu tidak lagi boleh menganggap bahwa tugas mereka selesai ketika materi ajar sudah diunggah ke platform atau dikirim lewat sarana media sosial. Parenting menuju normal baru memerlukan inisiasi komunitas-komunitas pendukung yang kondusif bagi semua pihak dalam mendidik anak-anak. Harus ada komunitas yang mendukung orang tua bisa berbagi sumber belajar dan saling belajar dari pengalaman rekan orang tua lain. Dalam hal ini semoga Facebook Group: Indonesian Christian Parenting Forum ( https://www.facebook.com/groups/552205704929368/ ) bisa menjadi wadah dan sarana. Demikian pula dengan para guru sekolah dan guru Sekolah minggu. Diperlukan komunitas-komunitas yang bisa saling mendukung dalam memberdayakan mereka demi anak-anak pada masa new normal. Untuk ini semoga ACSI (acsi.id & acsi.org) bisa menjadi inisiator dan fasilitator.

E. Co-schooling

Co-schooling adalah sebuah konsep baru yang penulis ingin rekomendasikan. Selama ini, schooling didominasi oleh sekolah-sekolah formal dan secara tidak sengaja, melumpuhkan orang tua dalam parenting. Pandemik Covid-19 ini memaksa semua pihak untuk menggeser pendidikan anak-anak ke home-based-learning. Hal ini bukan berarti guru dan sekolah mengalihkan perannya ke para orang tua secara total sampai-sampai ada orang tua yang enggan membayar uang sekolah. Co-schooling artinya bahwa pendidikan anak-anak sekarang dikerjakan bersama oleh orang tua dan sekolah, dan semoga gereja juga berperan dalam hal ini. Karena itu orang tua memerlukan pelatihan “Parenting for Academic Development”. Sederhananya meminta orang tua belajar tentang “parenting” dan “pengembangan akademik anak-anak”, serta bagaimana menghubungkan keduanya. Di lain pihak, sekolah dan gereja harus mengerti dinamika keluarga para muridnya. Para konselor bukan berhenti pada konseling kesulitan belajar atau tugas BP-BK serta sekedar konseling pastoral. Sekolah dan gereja harus memikirkan untuk memulai program Chaplaincy yang fokus kepada well-being murid dan guru. Ada peran baru, ada tugas atau job description baru yang harus dimunculkan, dan ada pengetahuan, sikap hati, dan ketrampilan baru yang harus dipelajari. Co-schooling adalah pendidikan formal yang dikerjakan bersama oleh orang tua, sekolah, dan gereja.

Refleksi Akhir

            Parenting menuju new normal tidak bisa dihindari jika kita tidak ingin mengorbankan generasi berikut, generasi masa depan, anak-anak kita. Namun, untuk menuju ke masa depan, diperlukan bukan saja komitmen Bersama tapi juga kerelaan untuk memaksa diri dan memaksa diri untuk rela berinvestasi waktu, pikiran, tenaga, dan biaya untuk well-being anak-anak kita juga sebenarnya untuk kita para orang tua, pendidik, dan hamba Tuhan juga. Semoga …!

1 Juni 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D. (Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *