BAHAYA 3LOVERS DARI PANGGUNG DIGITAL DUNIA MAYA!

2 Timotius 3: 16 adalah ayat yang cukup terkenal dan banyak dipakai oleh para Hamba Tuhan untuk menegaskan otoritas Alkitab sebagai Firman Tuhan yang berkuasa mentransformasi manusia. Yang menarik adalah konteks peringatan Rasul Paulus tentang “masa yang sulit” yang akan (selalu) datang pada “hari-hari terakhir”. Secara teologis, format Bahasa yang digunakan Rasul Paulus mengartikan bahwa “masa yang sulit” itu selalu datang dari jaman ke jaman (already but not yet) sampai Tuhan Yesus kembali ke dunia untuk kedua kalinya dan menutup sejarah manusia di bumi ciptaanNya ini. 2 Timotius 3:1-17 mendiskripsikan apa saja yang terjadi pada “masa-masa sulit” tersebut (ayat 1-9) dan solusi yang harus-tidak bisa tidak- dipilih oleh anak-anak Tuhan (ayat 10-17). Ada banyak macam manusia yang disebutkan Rasul Paulus pada “hari-hari terakhir”, namun satu dengan lain macam manusia selalu memiliki hubungan sebab-akibat satu dengan yang lainnya. Artikel ini tidak akan mengeksposisi seluruh perikop tersebut, namun mari kita fokus kepada “3 Lovers” yang ditabrakan dengan “Lovers” yang seharusnya.

Di dalam 2 Timotius 3:2 terjemahan Bahasa Inggris (ASV) di sebutkan bahwa akan ada “lovers of self” (para pecinta diri sendiri) dan “lovers of money” (para pecinta uang), sedangkan di ayat 4 disebut “lovers of pleasure” (para pecinta kenikmatan). Itulah “3 Lovers” yang menjadi godaan saat “masa sulit” pada “hari-hari terakhir”. Lalu bagaimana seharusnya? Di 2 Timotius 3:3-4 Paulus mengkontraskannya dengan “lovers of good” (para pecinta kebaikan) dan ujung-ujungnya adalah “lovers of God” (para pecinta Tuhan).

Berikutnya, ingat bahwa Surat 2 Timotius ditulis Rasul Paulus untuk mengingatkan dan menguatkan Gembala Muda Timotius menghadapai situasi hari-hari terakhir. Dari paparan semua macam orang yang akan muncul itu, ada dari mereka yang eksis di dalam gereja atau komunitas Tuhan. Paulus tidak berbicara tentang serangan dari luar atau sekedar hantaman fisik yang lebih gampang dikenali dan dihadapi. Peringatan Rasul Paulus berkenaan dengan penyusupan, pembusukan di dalam jemaat Tuhan, dan perusakan yang tidak gampang diidentifikasi.Masa sekarang ini adalah “masa sulit” pada “hari-hari terakhir” dan sebagai murid Kristus kita harus waspada supaya tidak terpeleset karena tergoda menjadi “3 lovers” yang bermasalah di atas.

Lovers of Self (Para Pecinta Diri Sendiri)

Yang dimaksud di sini bukanlah mereka yang memiliki potret diri yang sehat dan mengasihi dirinya sendiri dengan wajar, tapi adalah mereka yang egois dan selalu melihat dirinya sendiri sebagai pusat semesta, mereka yang tidak mampu menyangkal diri demi orang lain di luar diri mereka, apalagi demi Sang Pencipta. Ciri-ciri lain para pecinta diri adalah usaha-usaha untuk selalu fokus untuk membangun citra diri umum (public image) tanpa peduli hal-hal atau orang-orang lain di luar diri mereka. Para pecinta diri ini (yang bisa saja orang-orang Kristen atau bahkan para hamba Tuhan) belum pernah belajar membangun arti diri sebagai murid Kristus, di dalam Sang Penebus. Mereka mencari dan meletakan gambar diri pada merek pakaian dan asesori yang dipakai, jenis mobil yang dikendarai, ukuran pakaian yang menunjukan indahnya tubuh mereka serta yang instagram-able, obyek-obyek dan fasilitas-fasilitas wisata impian yang dikunjungi, difoto, lalu diumbar di medsos, juga akhir-akhir ini pada penampilan di berbagai panggung dan mimbar daring dan banyaknya pengikut. Selfie (beberapa psikolog sudah memasukannya ke klasifikasi gangguan jiwa), wefie, face-app, youtuber, tiktok, hanyalah beberapa fenomena yang pasti akan diikuti dengan hal-hal baru yang lain, Para pecinta diri sendiri ini bukannya diminta oleh Alkitab untuk menjadi petapa dan menghindari hal-hal di atas, namun motivasi melakukan semua itu adalah menyembah potret diri di atas integritas mereka, dengan demikian mendasarkannya pada mengejar kesombongan dan kebanggaan diri (pursuit of pride).

Banyak orang Kristen dan bahkan para hamba Tuhan yang pada masa ini meremehkan kekuatan dari media justru dengan meng-ilahkannya—membuatnya jadi ilah. Kita hidup di jaman yang jenuh dengan budaya pop, lalu lintas digital, telepon pintar, tablet, email, dan media sosial. Kehidupan sekarang dibanjiri dengan begitu banyak sajian untuk ditonton dan didengar sehingga akan menjadi sangat sulit untuk mendengar dan ditransformasi oleh Firman Tuhan dan mengijinkannya membangun worldview dan hidup kita. Bahkan kenyataannya, jika tidak berhati-hati, dunia sekarang ini mulai akan membentuk iman kita lebih dari FirmanNya. Ketika mereka kelelahan, frustrasi, tertekan, dan kehabisan tenaga menghadapi tantangan kontemporer, mereka akan lari ke dunia maya dan mencari hiburan dan ketenangan dengan sajian-sajian yang memperlalaikan (amuse) realita, membuat pikiran mati rasa (mind numbing), serta bersembunyi di balik gambar diri yang semu dan yang dicintai (lovers of self). Kehidupan akan menjadi maya, palsu, dan terputus dari realita hidup.

Romo Mudji Sutrisno (Diskusi Webinar “Aliansi Kebangsaan”) mengutip filsuf Prancis kontemporer, komentator politik dan sosiolog, yang juga berprofesi sebagai fotografer, bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra, mengkuatirkan munculnya kembali hiperealita, Hiperealita adalah budaya yang menjadikan CITRA, KEMEWAHAN atau PRESTISE sebagai core dari bukan sekedar bisnis, namun juga keseluruhan kehidupan. Bisnis seperti pariwisata, hotel, mall, kafe-kafe dan semua usaha bisnis lainnya.menjual hiperealita dalam menangguk untung dengan menjual imajinasi. Media sosial menggiring umat manusia untuk masuk ke dalam rana imajiner dan hanya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membangun gambaran publik imajiner. Sekali lagi, propaganda hiperealita ini membuat manusia, bahkan umat Tuhan untuk berpusat pada dirinya sendiri lalu terbentuklah para pecinta diri sendiri. “Jika Baudrillard di tahun 80an lalu sudah memikirkan kondisi hiperealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan kita.”, ungkap Mudji Sutrisno.

Lovers of Money (Para Pecinta Uang)

Jack O. Balswick dan Judith K. Balswick dalam “The Family: A Christian Perspective on Contemporary Home” (2nd ed. Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1999.) menyatakan bahwa tantangan terbesar bagi keluarga saat ini (sekitar tahun 1999) adalah modernitas. Mereka menganalisa modernitas menggunakan kerangka kerja yang melihat perubahan dalam terminologi komoditas, masyarakat, komunikasi, dan kesadaran. Dilemanya adalah dominannya komoditas yang menyeret fokus keluarga di sekitar nilai ekonomis dan “komodifikasi” kehidupan sosial. Mereka menemukan istilah “komodifikasi” dan mendefinisikannya sebagai sebuah proses yang menjadikan komoditas sebagai ukuran mutlak semua aspek hidup manusia. Rupanya teori ini menguatkan bahwa di setiap jaman akan lahir para pecinta uang atau para budak mamon.

Sekali lagi, kelompok ini bukan hanya ada di luar gereja namun beberapa dari mereka mengaku sebagai umat Tuhan. Berbagai aspek hidup seperti sukses, tujuan hidup, kedudukan masyarakat, cinta, penghormatan, kedudukan, karier, kebahagiaan, bahkan kerohanian dan berkat Tuhan atas orang Kristen dan gereja; semuanya diukur dengan komoditi. Para orang tua mengimpikan anak-anaknya untuk berhasil dengan ukuran komoditi. Para jomblo bingung memilih pasangan hidup dan menunda keputusan berlarut-larut karena alasan komoditi. Kepengurusan gereja dipenuhi oleh orang yang terpandang dengan ukuran komoditi. Anak muda menjadikan youtuber sebagai salah satu cita-cita dan tujuan hidup juga, selain untuk popularitas, juga karena alasan komoditi.

Pada 1997, Jessie O’Neill (cucu dari milyarder Charles Erwin Wilson, mantan Presiden dari General Motors dan Menteri Pertahanan US di bawah President Dwight D. Eisenhower) memulai “Project Affluenza”. Affluenza berasal dari gabungan kata “Affluence” (kekayaan) dan “Influenza” (penyakit menular). Affluenza adalah penyakit sosial dan karakter yang menular yang diderita seseorang dan bergejala hubungan yang tidak sehat (disfungsi) dengan uang atau kekayaan, tidak peduli orang itu kaya atau miskin; atau sebuah cacat karakter dan tingkah laku yang sakit, yang berhubungan dengan ketidak-mampuan seseorang dalam mengelola kekayaannya. “Affluenza Project” adalah sebuah proyek yang dimulai oleh Jessie O Neill untuk menolong dan menterapi mereka yang tertular affluenza. Jessie mengalaminya sendiri, namun dia memiliki gelar S2 di bidang terapi psikologis yang mendapati dasar terdalam affluenza adalah cinta akan komoditi atau uang. “Affluenza Project” menolong pasien membetulkan hubungannya dengan uang, dan menawarkan usulan-usulan untuk mereparasi kehancuran psikologis dan budaya akibat kepercayaan-kepercayaan yang tersesat tentang uang, kekuasaan, dan kebahagiaan.

Di dalam pepatah Tionghoa, kelihatannya affluenza menyebabkan “kekayaan tidak akan melewati generasi ketiga” (fu bu guo san dai). Banyak anak dari keluarga-keluarga super kaya yang tidak sanggup mengelola kekayaan keluarganya sehingga “generasi pertama banting tulang mengumpulkan kekayaan, generasi kedua menikmatinya dan menghabiskannya, dan generasi ketiga harus bekerja keras, banting tulang lagi”. Sedangkan anak-anak keluarga miskin menjual dirinya dan menukar integritas dan harga diri dengan sekedar komoditi.

Lovers of money adalah mereka dengan kehidupan yang sangat berbahaya dan merusak. Di masa krisis seperti sekarang ini sangatlah gampang anak-anak Tuhan bahkan hamba-hamba Tuhan untuk melakukan perjuangan dan usaha untuk menyambung hidup (survival) dengan berbisnis dan “tent-making ministry”. Rasul Paulus mengingatkan Timotius dan anak Tuhan sepanjang jaman untuk tidak menjadi para pecinta uang!

Lovers of Pleasure (Para Pecinta Kenikmatan)

Para pecinta kenikmatan yang disebut Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3 memiliki latar belakang filsafat Yunani yang diperkenalkan dan diajarkan oleh Epikurus, filsuf Yunani kuno yang namanya dipakai sebagai identitas ajaran ini. Epikurean menunjuk kepada sebuah pengagungan kenikmatan, kesenangan sensual, khususnya makanan dan minuman nikmat. Epikurus mengajar murid-muridnya bahwa kenikmatan adalah tanda kebaikan, sedang penderitaan adalah tanda dari kejahatan. Kenikmatan (pleasure) selalu beorientasi kepada rasa, panca indera, dan kepuasan hidup. Jejak ajaran Epikurean ini, bila kita jeli, bisa dilihat dipakai di dalam industri pariwisata dengan dream-destination-nya, kulinari dengan high-dinning-nya, wedding & birthday organizer dengan crazy-rich-party-nya. Industri-industri ini berorientasi pada experiential marketing and selling.

Kembali kepada Firman Tuhan yang mentransformasi dan yang (seharusnya) menjadi panduan tertiggi kita, Alkitab berisi banyak ayat yang menentang orientasi ini, seperti Yesaya 47:8 (NIV); Matius 10:38, 16:24; Markus 8:34; Lukas 9:23, 14:27; 2 Timotius 3:12; Ibrani 12:2; dan masih banyak lagi yang berbicara tentang penyangkalan diri dan pengorbanan, bukannya kenikmatan hidup.

Kedua macam Lovers di atas tidak mungkin lepas dari yang ini. Ketiganya berpusat pada diri manusia dan bukan kepada Tuhan Sang Pencipta hidup. Godaan dunia yang menawarkan kenikmatan selalu mencoba menjauhkan manusia dari Tuhan, padahal kenikmatan yang sejati hanya bisa didapat di dalam Tuhan (Pengkhotbah 2:25).

Lovers of God (Para Pecinta Allah) dan Lovers of Good (Para Pecinta Kebaikan)

Kedua macam Lovers ini bukan sekedar antidote dari semua penyakit yang disebutkan Rasul Paulus dalam peringatannya di 2 Timotius 3, namun juga merupakan hasil akhir dari transformasi yang harus terjadi pada semua anak-anak Tuhan. Kunci rahasianya adalah FIRMAN TUHAN. Firman TUhan punya kesaktian untuk “mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” karena “diilhamkan Allah”.

Bayangkan bila generasi penerus kita, anak-anak kita bertumbuh dalam situasi saat ini menjadi “3 Lovers” di atas, maka bisa dibayangkan bahkan dipastikan kehancuran masa depan Komunitas Iman Kristen. Untuk itu, selain waspada, kita sebagai pendidik (ORANG TUA, GURU, GURU SEKOLAH MINGGU, PEMBINA ROHANI, HAMBA TUHAN) harus mengkondisikan agar anak-anak kita bertumbuh bukan didefinisikan oleh arus dunia, menjadi sama dengan dunia, dan menghancurkan diri bersama dunia. Generasi penerus kita, bahkan kita sendiri, harus diusahakan dan berusaha bersama menjadi “anak-anak Tuhan”, “biji mata Allah”, “domba yang tersesat tapi dicari dan diselamatkan oleh Sang Gembala”, “ciptaan baru”, “lebih dari penakluk/ pemenang”. Bagaimana caranya? Rasul Paulus dengan gamblang menunjukan caranya dalam 2 Timotius 3:15, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. ”MEMPERKENALKAN KITAB SUCI DARI KECIL! Pendidikan Kristen! Integrasi Alkitab!”

6 Juni 2020
Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D.
(Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Comments

  • Tulisan yang inspiratif untuk menyadarkan anak-anak Tuhan agar kembali ke realita akan makna menjadi manusia citra Tuhan serta dalam pembaharuan budi setiap hari—transformasi diri dan hidup setiap hari. Aplikasi akan menjadi the lover of God dan the lover of good sangat perlu menempati ruang uraian yang lebih konkrit agar menelisik diri berjalan dalam transformasi hidup tiap-tiap hari menjadi terobservasi oleh diri anak-anak Tuhan masing-masing. Kemuliaan bagi Tuhan dalam segala sesuatu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *