Pola-Pola Baru bagi Pemberdayaan Umat Allah Seutuhnya

            Artikel ini ditulis dan diterbitkan dengan judul “Melatih Para Pemimpin untuk Abad Ke-21: Pola-Pola Baru bagi Pelatihan Umat Allah Seutuhnya”. Di situasi sekarang ini penulis merasa perlu untuk membagikannya dengan beberapa revisi untuk konstekstualisasi.

            Abad ke-21 ditandai oleh perubahan.  Segala sesuatunya, kecuali perubahan itu sendiri, berubah. Menyelesaikan tahun keduapuluh dari abad ke-21, beberapa perubahan telah menciptakan tantangan-tantangan yang menekan kehidupan manusia, tak terkecuali orang-orang Kristen.  Kebanyakan dari  tantangan-tantangan tersebut tidak bermula persis pada pergantian milenium; namun sangat mempengaruhi kehidupan manusia pada dua puluh tahun awal abad ini dan akan berlanjut.

Tantangan-Tantangan Kontemporer

Tantangan pertama dan yang paling dirasakan adalah krisis multi-dimensi yang sedang dan akan disebabkan oleh pandemic Covid-19 mulai awal tahun 2020.  Tidak peduli kapan akan berakhir, semua negara di dunia saat ini sedang kuatir akan datangnya krisis financial global yang telah meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan di seluruh dunia; dan tidak ada satupun negara yang bisa mengatasinya dalam satu-dua tahun mendatang. Krisis kesehatan juga akan menjadi masalah tersendiri karena belum ditemukannya vaksi Covid-19. Norma(l) baru kehidupan juga memerlukan penyesuaian drastik dan memaksa (karena Titik-Tidak-Bisa-Balik, point-of-no-return sudah terlampaui) tapi belum tentu bisa diikuti oleh sebagaian besar masyarakat dunia, akibatnya nyawa dan keselamatan manusia menjadi taruhan. Sudah terjadi efek domino (ripple effect) dari krisis satu menuju krisis lainnya.

Tantangan kedua yang harus dihadapi sekarang adalah memburuknya komodifikasi. Jack O. Balswick dan Judith K. Balswick dalam “The Family: A Christian Perspective on Contemporary Home” (2nd ed. Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1999.), menyatakan bahwa tantangan utama bagi keluarga-keluarga hari ini adalah modernisasi. Mereka menganalisa dengan memakai sebuah kerangka kerja yang melihat perubahan-perubahan dalam istilah-istilah komoditi, komunitas, komunikasi, dan kesadaran nurani.  Dilemanya adalah dominasi komoditi yang mengarahkan keluarga-keluarga itu berpusat pada nilai ekonomis dan komodifikasi kehidupan sosial.  Mereka memunculkan istilah “komodifikasi” dan mendefinisikannya sebagai sebuah proses yang makin menjadikan komoditi sebagai ukuran utama dari semua aspek kehidupan manusia. Komodifikasi akan memperburuk dan mempercepat kerusakan keluarga yang merupakan fondasi terpenting dan terkokoh dari semua masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah penyesatan-penyesatan yang menjauhkan manusia dari kebenaran alkitabiah.  Penyesatan-penyesatan ini tampil dalam bentuk nilai-nilai yang dipercayai sebagian besar orang.  Satu contoh adalah konsep kecantikan wanita.  Konsep ini dibentuk utamanya oleh kampanye industri-industri kosmetik lewat media masa.  Ironinya, orang di negara-negara Barat percaya pad aide kecantikan wanita yang berlawanan dengan yang dipercaya dunia oriental atau di Timur.  Artikel ini tidak akan mendiskusikan isu ini tapi hanya mendaftar beberapa penyesatan utama seperti pemahaman tentang potret diri, sukses, cinta, pluralism, kebebasan, kesetaraan gender, dan masih banyak lagi..

Yang keempat adalah pudarnya pengaruh Kekristenan.  Ada beberapa artikel bisa ditemukan di internet.  Di Indonesia, komunitas Kristen memang sedang kehilangan pengaruhnya dari kehidupan nasional.  Tidak ada angka statistik tentang hal ini,  tetapi ada beberapa indikator yang dapat ditemukan, misalnya diterbitkannya beberapa undang-undang dan peraturan nasional yang mengandung hukum yang mendiskriminasi, pelaksanaan hukum seperti itu di beberapa provinsi, serangan terhadap orang Kristen, penutupan dan perusakan gereja dan sekolah Kristen, dan absennya pemimpin, ahli-ahli dan tenaga profesional Kristen di banyak bidang kehidupan masyarakat nasional. 

Kompleksitas Masalah Kontemporer

            Tidak ada sebuah solusi sederhana bagi sebuah masalah.  Natur dari masalah hari ini adalah bersifat sistemik, lintas budaya, lintas geo-politik, dan majemuk.  Sebagai contoh, mari kita ambil masalah kemiskinan.  Apa yang menyebabkan kemiskinan?  LSM-LSM sering menuduh kapitalisme.  Namun, kapitalisme adalah pilihan dari setiap pemerintah dalam merancang dan melaksanakan kebijakan-kebijakn ekonomi dari Negara tersebut, sedangkan kebijakan-kebijakan negara itu adalah produk partai-partai politik yang sedang berkuasa.  Fakta lain adalah bahwa sebuah Negara tidak dapat membangun ekonominya tanpa berbisnis dengan negara-negara lain.  Ketika berbicara tentang solusi bagi masalah kemiskinan, kita harus mendiskusikan pembangunan kapasitas manusia yang dilakukan melalui pendidikan.  Uang sendiri bukanlah solusi bagi perjuangan orang miskin, tapi kapasitas dan ketrampilan-ketrampilan untuk memperoleh uang, membelanjakannya, dan menabungnya bagi masa depan mereka. Sebut saja sebuah masalah yang mempengaruhi kehidupan manusia dan analisalah.  Yang akan ditemukan adalah kompleksitas masalah tersebut.  Jelaslah bahwa para pemimpin Kristen abad ini  perlu memikirkan pola-pola baru bagi pelatihan keseluruhan dan keutuhan umat Allah untuk menghadapi kompleksitas masalah hari ini.

Umat Allah Seutuhnya

            Mendidik umat Allah seutuhnya adalah topik yang akrab.  Artikel ini mencoba mendefinisikan “keutuhan” umat Allah berdasarkan pengertian alkitabiah.  Dalam Kitab Ulangan, ketika pengertian tentang umat Allah sudah berkembang sempurna, Musa menyampaikan pidato pamungkasnya sebelum dia meninggalkan mereka dan menyerahkan kepemimpinan kepada Yosua. Dan perlu diingat bahwa saat itu bangsa Israel akan segera memasuki sebuah new normal: cara hidup baru (menetap, bukan nomaden), status politik baru (bangsa merdeka, bukan budak), cara mencari nafkah baru (petani & peternak, bukan pengumpul manna dan burung puyuh nyasar), cara ibadah baru (di Kemah Pertemuan, bukan lewat Tiang Awan & Tiang Api), hukum tata hidup baru (Dasa Titah, bukan suara Tuhan lewat Musa). Pada saat Musa menyampaikan “perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang (aku) ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan” umat Allah (6:1, ITB), dia menekankan keutuhan umat Allah, umat dari segala umur.   Perhatiannya adalah pembinaan antar-generasi identitas bangsa Israel sebagai umat Allah.  Adalah sangat jelas bahwa umat Allah seutuhnya adalah umat Allah segala usia.

1 Samuel 2:26 dan Lukas 2:52 memberikan pengertian lain tentang keutuhan.  Kedua kasus menjelaskan pertumbuhan holistik anak manusia.  Ayat yang tertulis dalam Perjanjian Baru unik karena dilaporkan oleh Lukas, seorang tabib.  Dia menerangkan bahwa bahkan Yesus, Sang Mesias, juga bertumbuh dalam keutuhan seorang manusia, dalam segala aspek kehidupan.  “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Menurut Ted Ward,  pertumbuhan holistik meliputi lima aspek, yaitu aspek fisik, intelek, emosi, sosial, dan moral, yang berawal dan berakhir pada aspek spiritual seseorang (“Nurture That Is Christian”, Grand Rapids: MI, Baker Books, 1995).  Keutuhan umat Allah mencakup semua aspek kehidupan

            Tuhan memilih umatNya menjadi sebuah umat Allah yang eksklusif (Ulangan 10:15, 1 Petrus 2:9-20).  Namun, ide umat Allah adalah ide yang inklusif. Ulangan 10:16-19 mengatakan bahwa Allah terbuka bagi semua macam orang: anak-anak yatim, janda-janda, dan orang asing atau pengelana.  Inklusifitas ini adalah pengertian dasar dari keutuhan umat Allah.  Umat Allah yang utuh mencakup semua orang yang beriman kepadaNya, tidak peduli asal tingkat sosio-ekonominya, kelompoknya, dan sukunya

Pola-Pola Baru bagi Pemberdayaan

 Dengan konsep keutuhan ini di benak, ada beberapa pola yang harus dipelajari dan diimplementasikan bagi pelatihan umat Allah.  Pola pertama adalah pendidikan holistik.  Ini berarti bahwa pendidikan harus secara sengaja mengarah pada semua aspek kehidupan seorang manusia.  Salah satu kritik terhadap pendidikan Kristen, termasuk terhadap pendidikan teologi, adalah penekanan berlebihan pada aspek intelektual kurikulum dan perangkat asesmen yang dipakai.  Mata pelajaran/ kuliah Alkitab diajarkan hanya untuk penguasaan pengetahuan Alkitab.  Seorang siswa lulus mata pelajaran/ kuliahnya karena penilaian berdasarkan kwalitas akademis tanpa menghiraukan apakah dia telah atau belum mengembangkan kwalitas emosi dan social yang seharusnya.  Beberapa sekolah mencoba mengimplementasikan program-program yang bertujuan mengembangkan kwalitas-kwalitas tersebut melaui program pembentukan karakter, program kerja praktek, dan program bakti sosial masyarakat.  Namun, pendidikan holistik mensyaratkan perhatian yang seimbang bagi semua aspek kehidupan para murid.  Seharusnya ada lebih banyak waktu, lebih banyak program, dan lebih banyak penilaian yang mengarah kepada kapasitas-kapasitas non-akademis para murid.  Dan kriteria kelulusan seharusnya didasarkan kepada kapasitas holistik para murid, bukan sekedar prestasi akademis.  Beberapa teori intelegensi bisa menolong dalam merancang dan mengembangkan kurikulum serta program-program pendidikan holistik, seperti Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adversity Quotient (AQ).  IQ (Alfred Binet & Theodore Simon, 1912) memandang seseorang dari perspektif kapasitas intelektualnya.  Teori ini telah dipakai sekolah-sekolah Kristen untuk mengukur murid-muridnya selama lebih dari seabad.  Pada 1995, Daniel Goleman muncul dengan teori EQnya yang menolong para pendidik melihat murid-muridnya dari perspektif kapasitas emosi mereka.  Penelitian tentang otak manusia memunculkan teori SQ (Robert Emmons – 2000, Danah Zohar & Ian Marshall – 2003) yang adalah dihasilkan dari penemuan yang mereka sebut “the God’s spot” (titik Allah) di otak manusia.  Beberapa pendidik Kristen memiliki resistensi terhadap teori ini sedang lainnya melihatnya sebagai pengayaan teori pertumbuhan iman dari James W. Fowler’s (1981).  Setelah krisis global pada tahun 1998, teori AQ (Paul G. Stoltz, 1987) mulai mendapat perhatian karena sekolah-sekolah perlu menolong para murid mereka menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Teori-teori intelegensi ini dapat dipakai dalam perombakan kurikulum dan perangkat asesmen serta strateginya demi menyediakan pendidikan yang lebih holistik.

            Pola kedua adalah apa yang disebut pendidikan global.  Artinya institusi-institusi pendidikan Kristen harus memikirkan situasi global dan konteks-konteks lain di luar konteks asal mereka, sambil merencanakan lokalitas mereka.  Implikasi-implikasi pola global ini harus terefleksikan dalam pengembangan kurikulum dan rancangan program, dalam strategi perekrutan murid, dan program-program bimbingan bagi para murid ketika mereka merencanakan masa depan setelah kelulusan. Sebuah sekolah harus menolong para muridnya untuk menemukan kehendak Tuhan khusus bagi masa depan setiap murid, sambil mengekspos mereka kepada beragam kesempatan di luar konteks asal mereka.  Perspektif lintas budaya harus dikembangkan dalam diri para murid.  Tantangannya adalah bahwa sekolah-sekolah Kristen harus juga mengikuti kurikulum yang diberikan pemerintah, dengan dewan pengajar yang lebih memusatkan perhatian kepada tugas administrasi dan kertas kerja dari pada pengembangan perspektif lintas budaya.  Ada begitu banyak masalah yang harus dipecahkan di seluruh dunia dan pendidikan Kristen harus memberdayakan para murid menyeberangi negara dan budayanya sendiri dan menjadi para pemecah masalah dunia—pemimpin yang menciptakan solusi. 

            Pendidikan dengan integrasi Alkitab adalah pola ketiga.  Bertahun-tahun, banyak sekolah Kristen di banyak negara telah menggunakan sebuah pemikiran yang terkotak-kotak (compartmentalized thinking) yang memisahkan kehidupan rohani atau bagian kehidupan yang “suci” dalam sebuah kompartemen yang terpisah dari bidang-bidang kehidupan lainnya seperti: studi, pekerjaan, keluarga, dan kesenangan.  Mereka mengajarkan Alkitab hanya pada jam-jam pelajaran agama/ Alkitab saja.  Sekolah-sekolah teologi menganggap sekolah/ jurusan lainnya sebagai “secular/ duniawi” disbanding dengan jurusan “sakral” mereka.  Selama sekolah-sekolah Kristen berpikir seperti ini, mereka menghasilkan orang-orang munafik yang merusak umat Allah.  Konflik anatar gereja, para pemimpin Kristen yang kehilangan integritas mereka di depan umum karena dosa-dosa mereka, dan pudarnya pengaruh Kekristenan dari dalam masyarakat adalah beberapa indikatornya.  Untuk itu sekolah-sekolah Kristen perlu mulai memikirkan tentang pendidikan dengan integrasi Alkitab yang mengintegrasikan nilai-nilai alkitabiah ke dalam kurikulum mereka, melalui kehidupan para pendidik mereka, dan di dalam budaya sekolah mereka demi pengembangan sebuah cara pandang (worldview) kristiani.  Bahkan sekolah-sekolah teologi perlu menolong para murid mereka untuk membangung sebuah cara pandang (worldview) alkitabiah yang memandang bidang kehidupan lainnya (misalnya bisnis, politik, militer) secara alkitabiah.  Kita memerlukan para pemimpin Kristen yang memiliki pengetahuan alkitabiah dan teologi yang kuat tetapi yang tidak menyimpan kehidupan mereka di dalam tembok-tembok gereja, pemimpin yang mengintegrasikan nilai-nilai Aalkitab mereka ke dalam semua bidang kehidupan umat Allah.  Penguasaan pengetahuan Alkitab dan teologi bukanlah tujuan akhir dari pendidikan Kristen tapi sebuah alat untuk memperkuat pengaruh Kristen di dalam dunia ini.

            Pola terakhir yang dibahas artikel ini adalah model eklektik pendidikan.  Ini merupakan sebuah kombinasi dari pendekatan pendidikan formal, non-formal, dan informal.  Pendidikan formal adalah dilakukan di dalam kelas oleh para guru yang terlatih (intra-kurikuler).  Pendidikan non-formal adalah kursus-kursus yang ditawarkan untuk memperkaya dan memaksimalkan pembelajaran para murid dalam pendidikan formal (ekstra-kurikuler). Pendidikan informal terjadi diluar kelas, dalam program-program seusai jam sekolah yang tidak terlalu terstruktur, di dalam organisasi-organisasi yang berbasis masyarakat, di museum-museum, di perpustakaan-perpustakaan, atau di rumah (ko-kurikuler).  Pendidikan informal bukan berarti tanpa rencana pembelajaran.  Hal ini harus direncanakan tapi diimplementasikan dalam suasana pembelajaran yang lebih santai.  Ada banyak ketrampilan dan kompetensi yang tidak dapat dikembangkan di dalam proses belajar-mengajar pendidikan formal yang sangat menekan.  Pendidikan non-formal dan informal education menyediakan kesempatan-kesempatan untuk meperlengkapi para murid dengan keutuhan pendidikan. Inilah yang menjadi cikal bakal konsep CO-SCHOOLING.

Pemberdayaan Umat Allah Seutuhnya

            Sekali lagi, dunia ini berubah dengan kecepatan yang ekstrim, mempengaruhi esensi bagaimana kita belajar, berinteraksi, dan bekerja.  Menjadi lebih imperatif dari sebelumnya bagi sekolah-sekolah Kristen untuk membangun kapasitas para murid untuk berkontemplasi dan berusaha menjadi warga negara yang melibatkan diri, baik secara lokal maupun global.  Sebagai para pendidik, bisakah kita menciptakan pengalaman-pengalaman pembelajaran yang memperlengkapi umat Allah seutuhnya demi masa depan yang terus berubah? Adalah harapan kita semua bahwa pendidikan Kristen dapat menangkap kesempatan-kesempatan yang disediakan oleh tantangan-tantangan kontemporer sekarang ini bagi kemuliaan Tuhan kita.

9 Juni 2020;

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D., (Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *