CO-SCHOOLING

Dalam artikel “Parenting Toward The New Normal” yang lalu (https://bit.ly/Par2NewNorm) dimunculkan sebuah istilah yang mendatangkan beberapa pertanyaan. Istilah tersebut adalah “co-schooling”. Istilah ini memang baru, yang dimunculkan sebagai alternatif menyongsong era baru dunia Pendidikan setelah pandemic Covid-19 ini. Untuk itu diperlukan penjelasan lebih lanjut dan artikel ini mencoba memaparkannya.

Co-Schooling Bukanlah Homeschooling

            Homeschooling memang menjadi satu di antara pilihan model pendidikan untuk anak-anak kita. Beda yang paling utama adalah pada kendali. Pada homeschooling kendali dipegang sepenuhnya oleh para orangtua. Orangtualah yang memilih bahan ajar, meramu kurikulum, menentukan jadwal belajar, mendaftarkannya pada otoritas pendidikan yang bersedia memberikan ijazah, memfasilitasi proses pembelajarannya, menyediakan fasilitas belajar; semuanya dikendalikan oleh orang tua. Karena itu para orangtua homeschoolers memerlukan kapasitas tertentu untuk melakukannya, demikian juga diperlukan komitmen dengan tingkat yang cukup tinggi untuk mempertahankan ritme dan kwalitas pendidikannya. Secara biaya memang lebih rendah dari sekolah konvensional.

             Co-schooling berbeda dari homeschooling. Dalam co-schooling, kendali dibagi bersama antara orangtua dan sekolah, dan juga dengan Komunitas Iman Kristen (Gereja). Kurikulum, bahan ajar, jadwal belajar, evaluasi belajar, ijazah, maupun proses pembelajaran dikendalikan bersama oleh 3 institusi di atas. Biaya pendidikan yang terjadi pasti berbeda dari pembelajaran konvensional, namun harus diingat bahwa sekolah masih memerlukan biaya operasional dan memiliki keahlian yang biasanya tidak dimiliki orangtua sekarang. Detil penjelasan akan dipaparkan di bawah.

Co-Schooling Bukanlah Online Learning

            Online learning adalah pembelajaran dengan moda daring, namun kendali masih dipegang penuh oleh institusi pendidikan formal (sekolah) yang lokasi geografisnya biasanya jauh dari si pembelajar. Pembelajaran daring ini adalah sebuah moda, metode, cara penyampaian (delivery) yang menjadi pilihan populer akhir-akhir ini bahkan sebelum pandemic Covid-19. Online learning mempunyai beberapa keuntungan tapi juga kerugian atau tepatnya tantangan-tantangan yang perlu dipertimbangkan. Keuntungan pembelajaran daring ini adalah kebebasan si pembelajar untuk terus berada di lokasi geografisnya tanpa harus datang ke kampus. Peserta didik juga bisa menentukan jadwal pribadinya untuk membaca, menonton, mendengar (memproses) materi-materi pembelajaran yang biasanya diletakan di panggung daring (online platform) atau dikirim lewat media sosial. Jadi ada kebebasan sekaligus fleksibilitas dan kemandirian dalam belajar. Namun, ada beberapa tantangan yang harus diwaspadai. Contohnya, fasilitator atau pengampu tidak bisa memonitor prosesnya secara langsung dan tidak mungkin menolong para siswa. Pertemuan synchronous tidak mungkin cukup untuk mengoptimumkan pencapaian pembelajaran. Belum lagi berbicara tentang intervensi pribadi (individual/ customized intervention) bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus atau kesulitan belajar tertentu. Selain itu, sangatlah sulit, walau menggunakan Learning Management System (LMS), untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran yang valid. Sistem pemantauan dan pertemuan synchronous real time belum bisa memaksimalkan pengukuran dan pembelajaran. Tantangan lain adalah tantangan kultural yang menyulitkan siswa dari budaya tertentu seperti di Indonesia untuk berinisiatif dalam menekuni proses pembelajaran. Tentunya hal ini berawal dari budaya pendidikan di Indonesia yang mengkondisi siswa untuk didorong-dorong dan diancam-ancam dalam belajar dan bukannya self-driven. Keluhan yang sering muncul adalah rendahnya motivasi dan ketekunan para siswa.

            Co-schooling bukan cuma sekedar moda pengajaran atau pembelajaran, namun sebuah konsep pendidikan yang bisa menjadi pendekatan utama setelah pandemi Covid-19 ini. Online learning bisa menjadi salah satu metode belajar-mengajar yang dipakai, tapi bukan hanya sekedar itu. Konsep co-schooling lebih komprehensif dan menuntut pemahaman utuh.

Co-Schooling Lebih Luas Dari Blended Learning

            Blended learning adalah pembelajaran yang dirancang mengkombinasikan kelas tradisional di sekolah dan pembelajaran daring dari rumah. Kendali masih dipegang oleh institusi pendidikan formal seperti sekolah atau universitas, lalu dibantu sedikit oleh para orang tua pada saat pembelajaran daring di rumah bagi anak-anak yang belum mampu mandiri.  Blended learning kelihatannya menjadi pilihan utama pada saat new normal diberlakukan setelah pandemic Covid-19 ini dianggap usai. Praktek Pendidikan seperti ini dapat mengurangai biaya sehari-hari sekolah maupun orang tua, menurunkan kebutuhan ruangan, mengurangi kebutuhan guru yang selama ini sangat sulit didapat. Tantang buat sekolah adalah melakukan over-haul dari seluruh operasionalnya seperti yang diusulkan dalam artikel lain sebelumnya (bit.ly/ReFormPdkKrStlhC19).  Kalau nantinya blended learning menjadi penawaran sekolah bagi orang tua, maka sekolahlah yang menentukan berapa hari murid belajar di ruang-ruang kelas di sekolah, dan berapa hari anak-anak belajar di rumahnya masing-masing atau di lokasi komunitas yang lebih kecil dari sekolah namun lebih besar dari 1 rumah tangga. Sekolah yang satu bisa menawarkan kombinasi blended learning yang berbeda dari sekolah lain selama Kementrian Pendidikan RI mengijinkannya (dan kelihatannya akan diijinkan).

            Di lain pihak, co-schooling idealnya mendudukan para orangtua, sekolah, dan gereja di satu meja untuk mendiskusikan model pendidikan apa yang terbaik untuk anak-anak mereka, kurikulum seperti apa yang perlu disajikan, dan siapa yang menjadi penanggungjawab bagian tertentu dari pendidikan yang disepakati. Pertanggungjawaban atas bagian masing-masing harus dilihat bukan sebagai beban, namun harus dipandang lebih sebagai sebagai investasi demi masa depan keluarga, gereja, dan masyarakat secara luas.

Definisi Progresif Co-Schooling

            Di atas sudah dipaparkan apa saja yang bukan co-schooling secara persis, apa saja bedanya, dan dengan demikian kita sudah mulai membangun konsep dan pengertiannya.  Berikut adalah beberapa kata kunci yang membantu kita memahami co-schooling dengan lebih komprehensif.

         Kerjasama

            Dinamai “co” mengandung arti kebersamaan. Pendidikan anak yang Kristiani harus dibangun bersama yang pertama oleh orangtua sebagai penerima anugerah anak dan mandat dari Tuhan untuk mendidik mereka. Yang berikutnya adalah mengikutkan Komunitas Iman Kristen atau dalam Perjanjian Lama lebih dikenal dengan Komunitas Umat Allah. Kepada komunitas ini Allah juga memberikan mandatNya untuk mendidik generasi penerus dalam “Ketetapan dan Peraturan” Tuhan demi menjamin masa depan yang diberkati (“tanah yang berlimpah susu dan madu”). Bdg. Ulangan 6:1-25, 8:11-20. Jaminan masa depan yang dinikmati sebagai berkat hanya bisa terjadi karena “Ketetapan dan Peraturan” Tuhan yang diajarkan sejak anak-anak. Yang terakhir adalah Sekolah, yang karena perkembangan jaman akhirnya menjadi pelaku utama pendidikan anak-anak kita dan makin menjauhkan rumahtangga dan gereja dari dirinya. New normal yang akan segera kita umat dunia masuki bersama setelah pandemi Covid-19 tidak lagi memberi ruang bagi sekolah untuk mengerjakan Pendidikan anak-anak kita sendirian. Dan kelihatannya akan terbukti bahwa keluarga dan gereja tidak mungkin melakukannya sendiri karena sudah kehilangan pengetahuan, hati, dan ketrampilan pendidikan bagi perkembangan akademis anak-anak kita.  Tantangannya adalah di antara 3 institusi yang diijinkan Allah hadir di dunia tersebut belum terbangun saling pengertian dan kerjasama. Diperlukan kerendahan hati untuk mau duduk bersama.

            Pembangunan Kapasitas Minimum (Minimum Capacity Building)

            Ketiga institusi yang dirancang dan diijinkan Allah hadir dan beroperasi di dunia ciptaanNya harus menjalankan tugasnya masing-masing setelah disepakati bersama. Untuk itu ketiganya memerlukan usaha untuk membangun kapasitas demi mendidik anak-anak kita. Orang tua harus dengan sengaja belajar bagaimana parenting untuk menghantar anak-anak ini ke masa depan seperti yang dikehendaki Tuhan. Selain program persiapan pra-nikah yang diadakan gereja, orang tua biasanya menjalankan perannya secara instingtif sehingga ketika terbentur masalah seperti saat pandemi Covid-19 tidak mengijinkan anak-anak belajar di sekolah lagi tapi harus di rumah, maka orangtua tergopoh-gopoh mencoba. Ketidaksiapan dan perubahan drastic yang dipaksa membuat dinamika keluarga menghasilkan stres baik bagi anak-anak maupun juga orang tua. (Baca https://bit.ly/Par2NewNorm) Untuk itulah urgensinya sangatlah tinggi untuk membekali dan memberdayakan orangtua dalam parenting dan memfasilitasi Pendidikan anak-anak Bersama dengan sekolah dan gereja.

            Berikutnya adalah gereja. Para hamba Tuhan tidak cukup dibekali untuk melakukan schooling bagi anak-anak generasi berikut dari gereja di luar aspek rohani. Untuk aspek rohani saja masih ada rohaniwan yang mengandalkan sekedar ritual dan kebiasaan yang dianggap rohani. Memang tidak sepenuhnya salah para hamba Tuhan yang lulus dari kurikulum pendidikan teologi di Indonesia yang sangat sederhana dan tidak mengantisipasi masa depan. Maka sangatlah diperlukan pemahaman dan pembelajaran akan pengetahuan, sikap hati, dan ketrampilan untuk menyediakan pendidkan bagi keutuhan well-being anak-anak. Artinya fokus pelayanan gereja, dari perspektif pendidikan, tidak boleh hanya sekedar pada aspek kerohanian, namun pada keseluruhan aspek kehidupan seorang anak yang terkait satu dengan yang lainnya. Anak-anak harus diusahakan bertumbuh secara holistik (1 Samuel 2:26, Lukas 2:52). Meresponsi kebutuhan yang mendesak pada masa pandemi Covid-a9 dan sesudahnya, maka sekolah-sekolah teologi harus memaksa diri untuk memperkaya kurikulumnya dan para hamba Tuhan yang sudah melayani di ladang harus rela rendah hati untuk belajar lagi demi generasi masa depan gereja.

            Sekolah adalah pihak terakhir yang biasanya dianggap paling ahli dalam mendidik anak-anak kita. Krisis global dan berantai ini memaksa sekolah untuk melakukan overhauling semua elemen operasionalnya. (Baca https://bit.ly/ReFormPdkKrStlhC19) Artinya pimpinan sekolah dan guru harus memikirkan ulang apa saja yang harus di-un-learn dan hal-hal baru apa yang harus di-re-learn dan apa saja yang nantinya harus terus keep learning. Ini artinya ada usaha untuk membangun kapasitas baru yang mungkin lebih besar dan memerlukan pengorbanan dan kerendahan-hati. Sebagai contoh adalah diperlukannya bukan sekedar curriculum & content designer, tapi juga content creator, content artist, dan content propagator untuk setiap mata pelajaran bagi semua jenjang kelas atau umur siswa. Sekali lagi ini adalah capacity building sekolah dan juga para guru secara individu.

            Keberanian & Agresifitas Menuju Education 4.0

            Sebelum pandemi Covid-19, dunia Pendidikan dan industry ribut mengangkat topik-topik yang memakai 3.0 dan 4.0, bahkan ada yang berani melempar wacana 5.0 tanpa dasar. Sederhananya, industry dan pendidikan 3.0 adalah bidang yang sama-sama menggunakan otomatisasi dan panggung daring (online platform) dalam operasionalnya. Lebih fokus pada pendidikan 3.0, Kementrian Pendidikan dan sekolah/ universitas formal masih memegang kendali penuh terhadap kurikulum, pedagogi-androgogi, manajemen dosen-guru, infrastruktur, penelitian, dan kemitraan (Ernst & Young, “Leapfrogging to Education 4.0: Student at The Core”, 2017). Pendidkan di Indonesia sebelum pandemi Convid-19 masih berada di 3.0 dan memerlukan lebih dari sepuluh tahun untuk mencapai pendidkan 4.0. Presiden Joko Widodo memilih Nadiem Makarim menjadi Menteri Pedidikan dan Kebudayaan yang terus menerus dalam pidato publiknya mengispirasi masyarakat dengan inovasi pendidkan menuju masa depan. Lalu pada Februari 2020 terjadilah “pemaksaan” perubahan drastis metode pembelajaran. Yang belum jelas sekarang adalah kepastian dari Pemerintah dalam membawa pendidikan di Indonesia menuju kenormalan baru. Akankah Indonesia memaksakan Education 4.0 dan apakah semua institusi pendidikan di Indonesia siap? Entah! Yang jelas pendidikan 4.0 memiliki fokus di seputar “experiential learning” (pembelajaran yang dirasakan/ dialami) oleh individu; dasar-dasar dan teori instruksionalnya disampaikan lewat semua panggung yang dilengkapi dengan berbagai teknologi mutakir; namun yang aplikasinya lebih dekat dengan kehidupan masyarakat nyata yang juga menuntut integrasi banyak bidang, melalui bermacam-macam interaksi sosial dan isu-isu dunia nyata.

Jika, sekali lagi JIKA, Pemerintah memaksakan pendidkan 4.0 maka artinya Kementrian Pndidikan dan Kebudayaan harus melepas kendali atas kurikulum, pedagogi-androgogi, manajemen dosen-guru, infrastruktur, penelitian, dan kemitraan. Sehingga pertanyaannya adalah kesiapan Sekolah Kristen, Gereja, dan Keluarga meramu kurikulum dan model pendidikan sendiri secara bersama-sama. Semoga ada keberanian dan agresifitas dari Komunitas Iman Kristen untuk berinovasi menuju Education 4.0 tanpa dipaksa oleh negara dan memakai the new normal sebagai kesempatan emas untuk merebut Kembali kepemimpinan pendidkan di Indonesia seperti abad lalu. Semoga!

11 Juni 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D.; (Veteran Pendidik Kristen; Education Specialist; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *