LETTING GO

(Tulisan ini bukan untuk memuaskan intelektual dan kognitif kita, tapi adalah ajakan untuk merenung)

            “Manusia lahir telanjang dan pergi tanpa membawa apa-apa (alias telanjang juga)”. Pepatah ini eksis hamper di setiap budaya, dan mungkin merupakah wahyu umum Tuhan yang juga tercatat di Alkitab  (Ayub 1:21, Pengkhotbah 5:14). Ini merupakan sebuah kebenaran universal mutlak yang tak terbantahkan, namun yang dalam perjalanan hidup menjadi tua sering terlupakan. Cara hidup yang mengalir dan non-antisipatif membuat para orang tua makin mencengkeram semua yang dimilikinya dan menganggap semua itu adalah milik yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Padahal, semua itu secara natural akan direbut darinya satu persatu. Tuhan mengijinkan proses alamiah, insiden-insiden dan “kecelakaan-kecelakaan” dalam hidup merebutnya dari kita. Dan bila kita mencengkeramnya erat-erat dengan “tangan” kemampuan kita pada waktu proses merebutnya, maka “tangan” kita akan sangat sakit dan terluka dalam Ketika hal itu berhasil direbut dari “tangan” kita. Lain ceritanya ketika kita mengendorkan genggaman kita dan membuka “kepalan” kita sembari merelakan semuanya pergi satu persatu, maka kita tidak akan tersakiti dan terluka. Inilah yang seharusnya dilakukan semua orang ketika siap, letting go – merelakan – melepas sukarela. Mari kita sadari satu persatu, apa saja yang harus kita lepas.

1. Kesehatan

            Polusi baik udara, air, maupun semua yang dikonsumsi merupakan faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap Kesehatan manusia namun hampir tidak bisa kita kendalikan. Kemudian pilihan individu akan gaya hidup sering membuat kondisi kehidupan kita memburuk bukan saja karena kesehatan fisik namun juga kesehatan mental. Memang ada faktor genetik bawaan dari orang tua, namun biasanya pemicunya adalah pola hidup. Dan kebanyakan yang dialami perlahan adalah menurunnya atau melambatnya metabolisme sehingga didiagnose menderita “penyakit-penyakit’ seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, stroke, rematik, sampai kepada alzheimer atau pikun.Dengan kondisi dengan metabolism rendah, maka daya tahan atau imun juga menurun bahkan tidak berfungsi sama sekali, yang akhirnya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus menghantam karena sudah ada penyakit terdahulu (komorbid).

            Ketika kita sadar hal ini biasanya sudah terlambat sehingga ketika berusaha sekuat tenaga merubah pola hidup, maka fisik manusia sudah “termakan” umur sehingga faktor penuaan fisik memaksa kita untuk merelakan kesehatan, vitalitas, dan kebugaran kita. Beberapa orang mencoba menipu diri sendiri dengan memaksakan “jiwa muda”nya untuk melakukan aktifitas fisik seperti dulu, namun biasanya akan memperburuk kondisi kesehatan. Letting go kesehatan bukan berarti menyerah, tapi sadar kondisi dan rumongso.

2. Kecantikan dan Kegagahan

            Kecantikan dan kegagahan sangat berhubungan dengan potret diri dan harga diri. Repotnya masa ini adalah masa di mana budaya visual menjadi orientasi karena dipromosikan (diindoktrinasikan) oleh industri kecantikan dan kebugaran. Industri-industri inilah yang mendefinisikan “kecantikan & kegagahan” sesuai dengan motivasi keuntungan dan kendali mamon dibelakangnya. Sayangnya Komunitas Iman Kristen belum berhasil membangun konsep kecantikan dan kegagahan berdasarkan Firman Tuhan dan kalah dari industri-industri kecantikan dan kebugaran tersebut sehingga nilai diri diukur oleh “dunia”.

            Dengan bertambahnya umur dan menurunnya Kesehatan, mau tidak mau, kita harus merelakan kecantikan dan kegagahan ini. Tanpa bermaksud diskriminatif, kelihatannya wanita lebih rentan terhadap masalah ini sehingga penelitian marketing mengarahkan usahanya kepada perempuan untuk menjual kecantikan dan kegagahan ini. Sekali lagi, banyak orang berusaha menipu diri sehingga berupaya untuk menyangkali realita bahwa umur sudah merebut dengan paksa kecantikan dan kegagahannya. Operasi plastik, kosmetik, dan suplemen dijadikan cara untuk menahan kecantikan dan kegagahan masa muda, namun letting-go—lah yang harus dilakukan.   

3. Anak-anak

            Anak-anak perlahan bertumbuh dan menjadi dewasa. Akan tiba saatnya mereka harus melanjutkan pendidikan, merintis karir atau berbisnis, lalu tidak bisa tidak pindah ke kota lain. Belum lagi ketika anak-anak bertemu dan menikah dengan pasangannya masing-masing yang berasal dari dari dan akan menetap di kota lain. Jarak geografis akan menjadi masalah. Walau dengan teknologi komunikasi canggih yang kita miliki, pertemuan fisik dan kedekatan emosi tidak akan bisa sama ketika mereka masih di usia balita. Menghantar mereka satu persatu ke pelaminan biasanya menjadi momen-momen traumatik bagi orang tua. Belum lagi konsep kultural oriental yang menganggap anak sebagai aset atau investasi yang bisa dinikmati pada masa tua menjadikan banyak orang tua yang memaksa tinggal bersama dengan salah satu anaknya, tapi tidak mau pindah dari rumah asalnya. Yang biasanya terjadi adalah konflik, minimal ketegangan dalam relasi keluarga besar mereka karena sistem keluarga sekarang sudah melibatkan menantu dan besan. Jika jumlah anak lebih dari satu, maka beban dan tanggung jawab “mengasuh” orang tua bisa dibagi dan digilir. Namun ketika anak tunggal yang harus menanggungnya, maka semua akan menjadi berat, dan akan menjadi sangat berat ketika anak tunggal menikah dengan anak tunggal.

            Ada seorang penulis yang menggambarkan parenting seperti membangun sebuah kapal di sebuah dok. Selama kapal belum diluncurkan ke laut, sang insinyur harus berusaha keras untuk membekali, memuat semua logistik, dan melengkapi si kapal dengan semua yang dibutuhkan bila si kapal berlayar dan kemungkinan menghadapi badai hidup. Namun, sekali kapal diluncurkan ke laut dan berlayar mengarungi kehidupan, si insinyur hanya bisa berharap bahwa semuanya cukup untuk perjalanan sepanjang hidup. Dia harus membiarkan kapal itu berlayar tanpa bisa melakukan apapun lagi. Seperti itulah orang tua harusnya berusaha melengkapi anak-anaknya dengan semua logistik yang dibutuhkan sebelum mereka dilarung ke lautan kehidupan. Sekali mereka meluncur, yang bisa orang tua lakukan hanyalah letting go dan berharap serta berdoa agar Tuhan menyertai perjalanan hidup mereka.

4. Penghasilan

            Isu ini diasumsikan lebih banyak dialami oleh pria, namun pada masa modern seperti sekarang ini ada banyak keluarga dengan double income karena kebutuhan ekonomi maupun karena keinginan untuk mendapatkan nafkah lebih besar. Artinya banyak wanita yang memiliki penghasilan pribadi dan akhirnya menyerahkan pengasuhan anak-anaknya kepada pembantu atau kepada kakek-nenek anak-anak mereka. Masa pension bervariasi. Ada negara yang mengharuskan pension pada usia 55 tahun, namun juga ada yang lebih tua dari itu. Jika berbisnis mandiri, maka ada masa di mana kebugaran fisik dan perubahan cuaca bisnis juga mengharuskan kita untuk memensiunkan diri. Dan ketika momen itu datang, maka otomatis penghasilan akan berhenti. Mungkin ada yang memiliki asuransi atau mendapatkan uang pension, tapi biasanya tidak akan sama besarnya dengan penghasilan awal. Kalaupun memiliki investasi atau apapun yang disebut sebagai passive income, tetap saja penghasilan rutin bulanan atau tahunan akan berkurang.

            Kekuatiran jelas akan datang dan melanda sampai memunculkan insomnia. Apalagi jika anak-anak belum mamu atau belum mau menopang kebutuhan finasial orang tua mereka. Potensi tekanan psikis bisa berakibat memburuknya Kesehatan juga. Kehilangan atau berkurangnya penghasilan memang harus diantisipasi sejak dini dan diimbangi dengan penataan keuangan (financial management) jangka panjang menuju masa tua. Lepas dari itu, kita harus letting go sebagian bahkan keseluruhan penghasilan rutin kita ketika saatnya tiba, lalu kemudian menyesuaikan kehidupan kita dengan apa yang kita miliki atau antisipasi. Semoga kita siap ketika saatnya tiba.

5. Status Sosial

            Status sosial seseorang membangun arti hidup dan potret diri. Biasanya status ini didapat dari jabatan, sukses dalam pekerjaan, kekayaan yang dikumpulkan, keterlibatan dalam aktifitas sosial masyarakat dan pelayanan di gereja atau institusi agama lainnya. Ketika tiba saatnya yang bersangkutan pension dan terpaksa melepas kesehatannya karena kondisi, aka nada resiko untuk merasa tidak berguna, tidak dihormati, tidak berfungsi lagi. Karena itulah banyak yang mencengkeram dengan erat semua status social dan jabatan-jabatan itu, baik di perusahaan pribadi atau bisnis keluarga, di tempat kerja, di lingkungan social, dan juga di lembaga-lembaga agama. Yang muda merasa enggan dan sungkan Ketika yang tua tidak rela melepas jabatan-jabatan seperti CEO, Dirut, Majelis Gereja, RT/ RW, bahkan Pendeta. Sekali lagi konflik berpotensi terjadi dan membuat hubungan antar pribadi makin runyam, komplikasi, dan toxic (beracun).

Inilah sebabnya banyak orang tua yang menjadi “musuh” orang-orang di sekitarnya karena tidak mampu letting go status sosialnya dengan sadar lalu menggeser status untuk lebih berperan sesuai kapasitasnya sekarang. Makin tajam konflik dengan lingkungan sekelilingnya, makin dia menjadi musuh semua orang, makin kesepian hidupnya karena orang-orang di sekitarnya takut dan enggan mendekat. Jika dipikirkan ulang, di dalam budaya oriental, orang tua adalah sosok yang sangat dihormati dan anak wajib hukumnya untuk berbakti kepada orang tuanya masing-masing (filial piety). Namun penerapannya akan terhambat ketika orang tua tidak membuka cengkeraman tangannya dan melepas semua status sosial yang dimilikinya pada saatnya ketika kapasitas tidak lagi cukup. Optimasi kapasitas generasi penerus juga menjadi terhambat.

6. Pasangan

Hampir bisa dipastikan pasangan suami istri dipanggil Tuhan tidak pada saat bersamaan kecuali oleh keinganan manusia. Salah satu pasti akan meninggalkan dunia ini mendahului pasangannya sehingga yang satu akan tertinggal. Kadang hal seperti ini tabu untuk dibicarakan namun realita tidak mungkin disangkali. Kehilangan pasangan akan menghantam makin keras Ketika terbentuk secara alamiah relasi suami-istri yang saling menggantungkan diri (inter-dependency). Ada banyak contoh pasangan yang tertinggal tidak bisa bertahan dan kesehatannya makin memburuk dang tidak membutuhkan waktu lama untuk menyusul menghadap Sang Pencipta.

Setiap orang tahu kapan dirinya dilahirkan, minimal dari info orang tua yang dilegalkan di akta kelahiran. Namun harus sepenuhnya disadari bahwa tidak ada yang mengetahui kapan tanggal yang harus dicantumkan pada akte kematian masing-masing. Karena itu kehilangan pasangan harus diantisipasi walau tidak boleh direncanakan. Ketika tiba saatnya letting go pasangan kita, antisipasi dan kesadaran transisi alamiah menuju keabadian akan memudahkan seseorang untuk melanjutkan hidup (move on) menuju kehidupan sisa yang penuh makan dan menjadi berkat.

7. Kendali

 Semua yang di atas akan pergi meninggalkan kita. Entah mana yang terjadi terlebih dahulu atau kita tidak akan pernah tahu urutannya. Satu persatu kita harus melepas kendali atas hal-hal tersebut dengan letting go semuanya. Bahkan suatu hari nanti, kita harus membiarkan orang lain mengendalikan kita karena kita sudah tiba pada titik nadir. Orang lain, semoga orang yang kita cintai, akan menyuapi kita dengan makanan yang mungkin kita tidak pernah sukai, memandikan kita, memakaikan pakaian kita, menuntun bahkan menggendong kita menuju tempat yang tidak kita inginkan, dan menentukan jadwal kegiatan kita berdasarkan waktu yang mereka miliki. Kita tidak mampu lagi mengendalikan apapun. Letting go kendali-kendali dalam hidup ini mungkin menjadi langkah terakhir yang harus kita lakukan. Pertanyaannya: apakah kita pernah memiliki kendali atas hal-hal tersebut? Bukankah Tuhan yang memiliki kendali mutlak dan tuntas atas semua hal itu? Lalu apa sulitnya letting go?

PERENUNGAN AKHIR

            Growing older graciously, we must letting go many things; but NEVER letting God go! Menjadi tua secara anggun dan elegan, kita harus merelakan banyak hal; tapi JANGAN PERNAH melepas Tuhan!

21 Juni 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D.; (Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *