“Buaya Tua masih Diperlukan utk New Normal” – A Weekend Reflection

This’s not mine. By “GC” (I don’t know yet who is GC)

Di sebuah sungai yang tenang yang berada tepat di tengah sebuah hutan di Amerika Utara, seekor buaya tua tampak mengapung di pinggiran sungai, terlihat bermalas-malasan. Seekor buaya muda menghampirinya dan berkata: “Saya mendengar dari banyak buaya bahwa kamu adalah pemburu paling ganas di sepanjang sungai ini. Ajarkan donk kepada saya bagaimana caranya menjadi seperti diri kamu.”

Buaya Tua tersebut membuka matanya dan menatap buaya muda tersebut, kemudian dia menutup matanya dan tertidur kembali di atas air.

Merasa dicuekin, buaya muda itu pun bertekad memberi “contoh” bahwa ia juga bisa berburu dengan cepat. Ia pun menyelam dan segera saja mengejar ikan lele yang sedang berenang di sungai tersebut.

Kurang lebih beberapa jam kemudian, buaya muda itu kembali ke buaya tua itu. Buaya tua itu masih tidur disana. Ia pun mulai menyombongkan dirinya tentang kesuksesannya barusan dan keberhasilannya mendapatkan 3 ekor ikan lele yang lumayan besar. Ia berkata: “Barangkali mereka semua salah… kamu bukanlah pemburu yang ganas seperti yang mereka katakan… Ia pun tertawa…”

Sang Buaya tua kembali membuka matanya, tidak berkata apa-apa dan kembali tertidur lagi disana. Kali ini malahan ada beberapa ekor burung yang hinggap di atas badan buaya tua itu. Tetapi buaya itu diam saja tidak bergerak.

Tidak beberapa lama kemudian serombongan bison datang ke sungai tersebut untuk minum air hanya beberapa centi-meter dari kepala buaya tersebut. Dengan sebuah gerakan yang sangat cepat dan tiba-tiba, buaya tua itu menancapkan gigi taringnya ke leher bison tersebut lalu menyeretnya ke dalam sungai.

Sang buaya muda begitu shok melihat kejadian yang begitu cepat seperti itu dan terus bengong menyaksikan buaya tua itu memakan daging bison yang beratnya hampir 0.5 Ton tersebut. “Ba.. ba… bagaimana kamu bisa melakukannya seperti itu?”

Dengan mulutnya yang penuh dengan daging, buaya tua itu akhirnya merespon, “Saya tidak melakukan apa-apa, diam dan mengamati. Itulah hal terpenting yang saya lakukan.”

Banyak pemimpin di dunia yang sibuk menjalankan bisnisnya. Mereka melakukan Business katanya… padahal tanpa mereka sadari, sesungguhnya mereka hanya melakukan Busy-ness dan bukan business. Kesibukan-kesibukan yang banyak dilakukan dan menyita waktunya. Adalah demi menjaga agar operasionalnya bisa tetap berjalan dengan baik. Pemimpin tipe ini tidak punya waktu untuk mengamati dan melihat peluang-peluang lain yang lebih besar.

Saya pernah punya tetangga, yang pada waktu saya kecil dan masih berusia 7 tahun sudah membuka usaha sebagai agen minuman dan hingga saat ini ketika usia saya lebih dari ½ abad. Dia masih sibuk sebagai juragan agen minuman. Waktunya habis untuk mengoperasikan usahanya. Tidak ada waktu untuk mengamati dan mengambil peluang besar bagi kemajuan usaha dan bisnisnya.

Di era digital seperti sekarang ini. Dengan arus informasi yang luar biasa banyaknya dan organisasi yang multi ruwet, maka bisa jadi seorang pemimpin bisnis menghabiskan waktunya lebih dari 8 jam untuk dealing dengan proses-proses yang harus dilaluinya.

Rapat, tanda tangan yang segunung, laporan-laporan yang harus dibaca dll. Sehingga ya… pemimpin tersebut pasti akan sangat-sangat sibuk. Dengan volume kesibukan seperti itu Pemimpin menjadi sulit untuk berpikir jernih untuk membuat loncatan-loncatan baru bagi usaha yang ditekuninya.

Quality VS Quantities

Jika kita melihat pekerjaan seorang pemimpin, jika items (Quantities) kerja pemimpin tersebut terlalu banyak, bagaimana mungkin mereka bisa mempunyai Quality yang baik?

Untuk meningkatkan kualitas kerja mereka maka sesungguhnya pemimpin harus pintar-pintar mendelegasi pekerjaannya supaya …. Apa? Supaya dia tidak ada kerjaan apa-apa… Dengan begitu ia bisa melihat setiap items pekerjaannya yang sekarang dikerjakan anak buahnya lalu meningkatkan kualitas bahkan output dari pekerjaan tersebut.

Jika Anda terlalu sibuk dan tidak mampu menghilangkan 50% pekerjaan anda, belajarlah dari Tim Ferriss, ia punya buku yang menarik yang bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. The 4-hour workweek.

Sekedar informasi aja, beberapa founder-founder perusahaan terkenal seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Tim Ferriss biasanya mempunyai apa yang disebut sebagai “Think Weeks”, mereka memasukkannya di dalam agenda tahunannya mereka “Think Weeks” tersebut. Mereka menghabiskan minggu itu untuk melakukan refleksi, membaca buku, berpikir dan “menyucikan” dirinya dari dunia bisnis yang digelutinya. Bahkan istilah “Think Weeks” ini menjadi terkenal karena Bill Gates yang sering mempromosikannya.

Jadi jika Anda adalah pemimpin perusahaan / organisasi, jangan lupa, set up Think weeks dan buatlah tangkapan besar seperti bison di atas…. Dan kini tanpa kita sadari kita sudah memasuki Semester kedua, apa pelajaran penting yang kita dapati di Semester I, apa yang bisa atau perlu diefektifkan, apa yang bisa diefisienkan?

”Doing nothing is better than being busy doing nothing.” – Lao Tzu

Selamat pagi Frens !

Credit is not mine! I just reflect on it! 4 bulan terakhir ini kita banjir dg online seminar dr banyak pihak. Those made me numb and dumb. Bahkan banyak hamba Tuhan sudah beralih menjadi artis zoom, youtuber, dll. Maaf kalau terdengar menghakimi….. tapi keseimbangan perlu. Wisdom is needed, and she can only grow by age….. wisdom not intellectual. Alkitab selalu menghubungkan hikmat dan rambut putih. Have a blessed weekend!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *