BERLATIH MATI

Semoga kita tidak ketakutan untuk membacanya!

Perenungan,

Tulisan dari seorang Dokter yg bertugas di RS Swasta – Jogjakarta…. (Jika ada yang mengenali, atau Anda sendiri yang menulisnya; mohon hubungi saya untuk melanjutkan refleksi ini bagi lebih banyak orang.)

Seringnya mendapat giliran tugas menunggui mereka yang sedang menghadapi sakratul maut alias detik-detik menjelang lepasnya nyawa dari tubuh fisiknya, membuat saya  banyak merenungkan apa arti dari semua  ini. Sebuah kesempatan belajar yang langka dan tidak semua orang bisa mengalaminya.

Apa pentingnya buat saya?

Sangat penting, karena  dari  peristiwa  itulah  saya  terus  disadarkan  bagaimana  mengisi  hari-hari yang saya  jalani  ini, agar bisa  berakhir dengan  penuh  makna, mencapai  tujuan yang  diagendakan sejak sebelum saya diturunkan ke dunia, dan belajar menghargai waktu yang tersisa dengan hidup   yang  lebih  berkualitas.

Cara orang meninggal dunia itu berbeda-beda.

Kemiripannya  hanya  pada  tanda-tanda  yang  menyertai  sebelum  maut  menjemput. Wajah  yang  mendadak  berubah, seperti  bukan  yang  kita  kenali  selama  ini. Pucat, bahkan putih seperti tembok. Terutama  sorot  mata  mereka, yang  sebentar  kosong, sebentar  gelisah,  sebentar marah. Perilaku  juga  berubah. Ada yang keinginannya harus dituruti betapapun anehnya. Atau  membuat  orang  lain  kesal, dan  yang  bersangkutan  sendiri  marah  atau  uring-uringan. Mereka  juga  jadi  labil  secara  emosi. Sedih, sering menangis tanpa tertahan lagi, takut ditinggal sendirian. Semakin mendekati waktunya, semakin gelisah menanyakan hari, tanggal atau jam. Juga tak betah  lagi  mengenakan  segala  macam alat  bantu  medis  yang  dimaksudkan  untuk membuat  mereka  lebih  lama  bertahan  hidup.

Yang  membedakan  adalah  seberapa  pasrah  atau  seberapa  besar  keyakinan  mereka terhadap pemeliharaan    semesta,  semasa  hidupnya. Kebanyakan  mereka  yang  simpel  dan  lurus-lurus  saja  hidupnya,  tak  banyak  kuatir  memikirkan  ini itu hingga detil,  lebih cepat  “berangkatnya”.  Tapi  jika  masih ada banyak ganjalan di  hati  dan  pikirannya,  seringkali mengalami  kesusahan  pada saat  jiwanya  akan  lepas  dari  tubuhnya.

Hal ini  membuat saya berpikir, bahwa  untuk  mati  dengan  mudah  tanpa  melalui  banyak siksaan, adalah  dengan  melatihnya  semasa  kita  masih  hidup di  dunia.

Berlatih mati?

YA! Anda tidak salah baca, dan saya tidak sedang becanda.

Yang pertama perlu dilatih adalah soal keyakinan kita.

Yakin  dan  menyadari  dengan  sesadar-sadarnya  bahwa  segala  sesuatu  itu  baik adanya, berujung kebaikan, dan  selalu  ada  kebaikan  walau  nampaknya  susah  sekalipun. Ini  adalah  fondasi  yang  sangat  penting  ketika  nyawa  kita  tengah  berada  di  ujung  tanduk nanti. Kebaikan  yang  selalu  kita  yakini d an  pikirkan  akan  membuat  kita  menyambut kematian  dengan tersenyum dan sukacita. Putusnya  nyawa dan keluarnya  jiwa  dari  tubuh  fisik kita akan lancar sama  seperti  ketika  buang hajat  besar, semakin  kita  rileks, akan  semakin  mudah, tapi semakin kita  tegang, semakin susah lepas.

Latihan kedua adalah berlatih melepas.

Melepas apa saja yang selama ini kita anggap sebagai hak kita. Sadarilah  bahwa  kita tidak  memiliki  apa-apa  dan  tidak  berhak atas  apapun, termasuk memikirkan  nasib orang-orang yang  kita  kasihi  yang  akan  kita  tinggalkan. Itu bukan urusan dan tanggung jawab kita. Mereka  adalah  milik semesta  dan  masing-masing  memiliki  urusannya  sendiri-sendiri  dengan semesta. Lepaskan  juga  segala  urusan  harta,  kekayaan  dan  apapun  yang  masih  mengikat  dan menguasai kita, sejak sekarang ini,  selagi  kita  masih  hidup.

Artinya, ini  adalah  latihan  mental  agar kita  tidak  terus  menerus  kuatir dan memikirkan sesuatu yang  nantinya  akan  kita  tinggalkan. Melepaskan  juga  berarti  melepaskan  dendam, kemarahan, kepahitan, luka batin  yang  masih  ada. Bersihkan  mulai  dari  sekarang ini, hingga tak ada sisa sama  sekali. Lepaskan  juga  pengampunan  dan  berkat  kepada  mereka  yang  pernah menyakiti  hati, mengkhianati, mengakali kita, seikhlas-ikhlasnya.

Latihan juga tidak berhenti di aspek spiritual dan mental saja, namun juga di aspek fisik.

Tapi lebih enak mana meninggal dengan sehat atau dengan sakit? Berlatihlah menghormati  dan  menghargai  tubuh  kita  mulai  dar i sekarang. Mulai  belajar  mendengarkan suaranya,  apa  yang  sebenarnya  ia  butuhkan,  bukan  apa  yang  kita (ego/ nafsu) butuhkan. Berikanlah  apa y ang  tubuh  inginkan  sejak sekarang, agar ia  tak membangkang atau  menusuk di belakang pada saat kita tak berdaya  lagi. Tapi ini bukan berarti manipulasi ya. Lakukanlah dengan  ikhlas, karena  mengasihi  tubuh  sendiri  sama  dengan  melayani  orang  yang sedang sekarat. Perlu hati-hati, cermat, penuh hormat. Daripada  nantinya  tubuh  kita  habis  dimakan  obat, lebih  baik  memeliharanya  dengan  baik semasa kita masih  bisa. Berikan makanan yang sehat, olahraga yang cukup, sinar matahari pagi, dan air bersih yang sesuai kebutuhan.

Banyak lagi yang bisa  kita latihkan untuk menyambut  kematian  dengan gembira dan bukan dengan air mata.

Sudah waktunya kita mengubah persepsi tentang kematian bukan lagi sebagai peristiwa dukacita tapi kemenangan yang perlu dirayakan.

Selamat merenungkan dan mulai berlatih!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *