HOLISTIC GROWTH FOR THE WELL BEING

Sebelum pandemik melanda di Februari 2020 banyak orang tua dan sekolah (guru, kepala sekolah, dan pemilik/ Yayasan) yang percaya bahwa prestasi serta gengsi akademis hampir seluruhnya diletakkan pada prestasi kognitif yang diukur oleh nilai rapor anak, hasil Ujian Nasional, dan olimpiade-olimpiade-an yang sering hanya diikuti oleh sekolah sekecamatan. Ketika anak-anak harus “dikurung” di rumah atas nama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) demi terhindar dari Covid-19, maka sontak para orang tua dan anak-anak mulai tertekan dan ribut dengan konflik orang tua-anak karena mereka tidak siap mengembangkan relasi akademis guru-murid. Media sosial dipenuhi dengan ekspresi dan keluhan ketertekanan itu sehingga makin menguatkan kesan yang menggiring pada kenyataan konflik dan tekanan tersebut pada para orang tua dan anak-anak lainnya. Bahkan para pimpinan Lembaga agama ikut mengompori tanpa mengerti duduk masalah dan membantu mengurai benang kusutnya dan mencari solusi. Sekolah dan para pendidikpun menjadi kambing hitam. Situasi semakin runyam! Lalu tiba-tiba istilah “wellbeing” mulai banyak dipakai bahkan oleh mereka yang tidak mengerti konsep dan artinya. Mari kita sejenak kembali ke Alkitab.

Lukas 2:52

            “Dan Yesus makin bertambah hikmat-Nya (bukan sekedar itelegensia) dan besar-Nya (fisik dan postur tubuh), dan makin dikasihi oleh Allah (rohani/ iman dan moral) dan manusia (emosi dan sosial). Catatan: terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia masih kurang tepat karena ada pengulangan kata “besar”. Ayat ini mengakhiri perikop tentang insiden Yesus yang kira-kira berumur 12 tahun (belum akhil baliq) menghilang dari kelompok orang sekampungnya yang sudah dalam perjalanan kembali pulang setelah perayaan di Bait Allah di Yerusalem. Orang tuanya, Yusuf dan Maria, terpaksa kembali ke Bait Allah setelah berjalan semalaman dan akhirnya mereka menemukan anak ini sedang berbincang-bincang dengan para ahli Taurat di level para professor. Ada ketegangan di sana ketika Maria, sang ibu komplain terhadap Yesus. Sayang tidak ada catatan Alkitab tentang reaksi Yusuf, sang ayah, yang saya yakin juga tertekan dan salah tingkah menghadapi anaknya karena sadar Yesus adalah Mesias tapi juga anak dalam pengasuhannya. Lalu tabib Lukas menutup perikop tersebut dengan penuturan di ayat 52 seperti di atas. Sebagai seorang tabib yang memiliki pengetahuan tentang pertumbuhan manusia, dia menuliskan komentar penutup perikop yang mengandung konsep tentang pertumbuhan (makin—berubah menuju kematangan) seorang manusia dalam keutuhan dan keseimbangannya—holistically tanpa mengabaikan wellbeing baik si anak dan juga orang tuanya.

1 Samuel 2:26

            “Tetapi Samuel yang muda (anak yang belum akhil baliq) itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.” Dari ayat di Perjajian Lama ini, kita mengetahui bahwa ternyata pengerti tabib Lukas bukan berasal dari pengetahuan fisiologinya saja, tapi juga dari konsep keutuhan wellbeing yang sejak dulu di yakini oleh Umat Allah. Samuel kecil tidak bertumbuh diasuh oleh orang tua kandungnya secara langsung, tapi oleh lingkungan keimaman di bawah pimpinan Imam Eli. Tidak ada indikasi bahwa muncul tekanan dari hubungan pengasuhan antara Imam Eli dan Samuel. Yang ada adalah masalah yang muncul karena perbuatan dosa anak-anak Imam Eli, Hofni dan Pinehas, karena kegagalan Imam Eli mendidik mereka sejak kecil sampai akhirnya mereka tidak lagi mendengar teguran ayahnya dan tidak takut akan Tuhan. Yang mengherankan adalah kegagalan Imam Eli mendidik anak-anaknya tidak membuat dia gagal mendidik Samuel muda yang nantinya akan menggantikannya sebagai pemimpin rohani Umat Tuhan. Ada pemeliharaan atau providensia Allah dalam kehidupan hamba-hambaNya.

Ted Ward (1930-2016)

            Mantan Dekan International Studies, Mission, and Education di Trinity Evangelical Divinity School, seorang pendidik Kristen yang memberikan sumbangsih besar pada dunia Pendidikan Kristen mengatakan bahwa pertumbuhan holistik seorang manusia meliputi 5 “jari” yaitu fisik, intelek, emosi, moral, sosial yang semuanya berpangkal pada sebuah “telapak tangan” yaitu rohani/ iman. Sebuah “tangan” tidak mungkin berfungsi optimal tanpa kelengkapan semuanya. Dia juga menengarai bahwa sekolah-sekolah Kristen dan gereja-gereja tidak menyadarinya, bahkan cenderung mengabaikan keutuhan dan keseimbangan semua aspek tersebut karena menekankan hanya pada beberapa di antaranya saja. Wellbeing seorang manusia bisa dibangun dan dijaga ketika semua aspek itu dijaga dan diasuh dalam pertumbuhannya.

Korus Connect — Australia

            Meminjam dari Korus Connect – Australia, sebuah lembaga non-profit yang mengembangkan kolaborasi antar berbagai organisasi yang menyasar pertumbuhan, penyediaan fasilitas, dan dukungan bagi komunitas di Victoria, Australia; berikut adalah konsep “wellbeing” dalam sebuah bagan yang dimunculkan bukan untuk situasi darurat pandemi namun pengertian dasarnya tetap relevan.

Text Box:

Berikut adalah beberapa hal yang kita bisa pelajari dari konsep Korus Connect di atas.

PERTAMA, konsep tersebut bisa diterapkan secara fleksibel baik di rumah tangga, di sekolah, di gereja, di rumah sakit, di militer, di dunia kerja (marketplace), bahkan di kantor polisi dan di penjara.

KEDUA, kelengkapan SEMUA aspek kehidupan diperhitungkan dan disiapkan sistem pendukungnya (support system) yang sewaktu-waktu bisa langsung terjun bila diperlukan, apalagi dalam situasi darurat.

KETIGA, konsep wellbeing dirancang berpusat pada fungsi CHAPLAINCY! Chaplain lah yang mengkordinasi keseimbangan dari semua aspek.

KEEMPAT, di websitenya, para chaplain yang menjadi member dari jaringan ini menegaskan bahwa mereka percaya kepada holistic pastoral care yang membuat mereka bekerja secara kolaboratif dengan rekan  profesional lainnya seperti psikolog, pekerja sosial, konselor, dan tenaga Kesehatan demi wellbeing semua pihak.

Dari beberapa paparan di atas, maka yang tertinggal adalah beberapa pertanyaan reflektif berikut ini yang urgen untuk diresponi semampunya.

#1. Apakah selama ini kita cenderung untuk fokus pada satu atau sedikit aspek saja dari kelengkapan aspek hidup manusia (anak maupun orang tua)?

#2. Apa saja aspek yang memerlukan perhatian lebih karena selama ini terabaikan sehingga hidup tidak seimbang?

#3. Kesengajaan apakah yang bisa diprogramkan untuk menjaga keutuhan, kelengkapan, dan keseimbangan semua aspek hidup manusia?

#4. Kolaborasi apakah yang bisa diusahakan untuk mencapainya?

#5. Pembejaran apa yang bisa diprogramkan untuk mencapai keutuhan, kelengkapan, dan keseimbangan wellbeing semua pihak?

9 Agustus 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D. (Educational Specialist; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *