BERTAHAN HIDUP DI ERA BARU: REFLEKSI BAGI KOMUNITAS IMAN KRISTEN – SURVIVING THE NEW ERA: REFLECTION FOR CHRISTIAN FAITH COMMUNITY

Paruh pertama tahun 2020 merupakan masa yang diwarnai oleh perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan tersebut terjadi di pelbagai area kehidupan manusia, drastis, cepat, merata secara geografis, melanda semua kalangan usia dan status sosio-ekonomi juga etnis. Yang paling menguatirkan adalah bahwa tidak seorang manusiapun yang bisa kembali kepada situasi hidup sebelumnya. Karenanya, yang terjadi adalah ketegangan demi ketegangan yang berpotensi merusak kehidupan umat manusia dan memperparah keadaan.

                   Merenungkan hal ini, penulis teringat akan hal yang mirip dan yang dialami juga oleh umat Israel ribuan tahun lalu ketika mereka memasuki “the new normal” di Tanah Perjanjian, Kanaan. Memang penyebabnya berbeda dan transisinya berlangsung lebih dari 40 tahun. Namun perubahan-perubahan yang terjadi mirip dan mengarah pada ketegangan-ketegangan yang juga sama merusak situasi dan memperparah kehidupan saat itu. Refleksi yang tertuang ini mengingatkan penulis kepada Skripsi S1 di Seminari Alkitab Asia Tenggara di bawah bimbingan Pdt. Dr. Peter Wongso dan Pdt. Noch Moningka, 32 tahun yang lalu. Judulnya adalah “Kitab Ulangan: Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Beberapa Tema Sosiologi”. Mari kita coba merenungkannya dari perspektif saat ini.

                   Catatan: tulisan ini dengan sengaja tidak menunjukan di mana fakta-fakta yang disebut di tulis di dalam Alkitab dengan tujuan agar Pembaca yang Budiman meluangkan waktu untuk menelaah Lima Kitab Musa (Pentateuch).

A. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI

Identitas Komunal

                   Pertumbuhan Israel menjadi sebuah bangsa berawal di Mesir ketika mereka diperbudak dan ditekan oleh bangsa Mesir. Sebagai budak, hidup mereka diatur dan diawasi ketat dengan agenda yang dipaksakan oleh sang penindas. Pada dasarnya Israel bertumbuh menjadi bangsa tanpa memiliki identitas dan hak atas kehidupan pribadi dan komunitas. Tidak ada kemerdekaan dan kemampuan menentukan nasib pribadi dan bangsa. Masa yang cukup lama dalam kondisi ini membentuk mental bangsa sebagai budak, mental budak.

Lalu TUHAN mempersiapkan dan mengorbitkan Musa sebagai pemimpin untuk mendampingi mereka berproses menjadi sebuah bangsa. Alkitab menunjukan intervensi ilahi dalam membebaskan mereka dari cengekraman Firaun dan militernya. Tulah demi tulah sampai akhirnya semua keluarga Mesir kehilangan anak sulungnya. Akhirnya mereka berkemas dan berangkat, lalu menyeberangi Laut Merah. Status komunitas Israel adalah pelarian atau kriminal. Segerombolan pelarian yang tanpa proses pengadilan boleh dibunuh karena mereka adalah budak yang memang saat itu dalam budaya Mesopotamia dianggap sebagai sekedar “binatang” peliharaan.

Kisahnya berlanjut dengan pengembaraan di padang gurun selama 40 tahun. Saat itulah identitas mereka bergeser menjadi kelompok nomaden, pengembara yang berputar-putar di padang gurun dengan cuaca ekstrim. Pengembaraan di padang gurun memunculkan rasa bosan, monoton, dan kejenuhan. Yang menarik, di padang gurun inilah Yahweh melalui Musa, Harun, dan Miriam mulai membangun, membentuk, dan menata kehidupan mereka menjadi sebuah Umat Pilihan Allah, serta mempersiapkan mereka untuk memasuki Tanah Perjanjian Kanaan. Elemen demi elemen diatur, dibentuk, ditata sehingga Israel layak menyandang status umat pilihan Allah.

Kepemimpinan Umat

                   Allah sebagai Dalang-Alam-Semesta memiliki skenario utama maupun skenario cadangan “plan B & C” jika umatNya salah merespon atau bahkan memberotak dan melawanNya. Dalam perjalanan Umat Israel di padang gurun, ada begitu banyak insiden yang menujukan dinamika hubungan antara Israel sebagai umat atau bangsa, maupun sebagai individu demi individu. Bahkan Musa sebagai pimpinan komunal mereka juga berdinamika dengan Allah yang berakhir dengan pelarangan memasuki Tanah Perjanjian yang selama ini diperjuangkan mati-matian sepanjang hidupnya.

Kepemimpinan umat di padang gurun diawali dengan model teokrasi yang didominasi langsung oleh Yahweh, baik dengan berfirman secara audible (bisa didengar) dan/ atau visible (bisa dilihat) oleh Musa dan/ atau seluruh umat. Wujud kepemimpinanNya nyata juga dalam bentuk kehadiran tiang awan pada siang hari untuk sekalian membuat mereka terlindungi dari ekstrim teriknya padang gurun dan tiang api yang juga menghangatkan umat Israel dari ekstrimnya dingin padang gurun yang memang memiliki amplitudo suhu radikal antara siang dan malam.

Perubahan model kepemimpinan berlanjut dan ditransisikan serta dikerja-samakan secara bertahap bersama individu-individu pilihan Allah, yaitu mulai dari Musa, Harun, dan Miriam, kemudian kepada Yosua dan Kaleb di akhir pengembaraan di padang gurun sebelum menyebrangi Sungai Yordan memasuki Tanah Perjanjian Kanaan. Para pemimpin yang dipilih secara simultan bersama dengan seluruh umat Israel diproses, diuji, diberdayakan. Terjadi dinamika antara Dalang-Alam-Semesta, umat pilihan, dan mereka yang ditunjuk untuk menjadi jembatan dan wakil Allah dalam menggembalakan umat Israel. Pergumulan pribadi pasti dialami oleh masing-masing pemimpin pada era dan situasinya masing-masing, namun Allah memberdayakan mereka semua lewat interaksi dan relasi pribadi yang diinisiasi dan dipakaiNya untuk tujuanNya. Jadi, walau dipilih langsung oleh Allah, pemilihan itu tidak mematikan pribadi para pemimpin dan bukan menjadikan pilihan itu sebagai hubungan otoriter yang mematikan gaya kepemimpinan mereka masing-masing.

Di Tanah Perjanjian, nantinya kepemimpinan umat ini juga berubah. Untuk kepemimpinan spiritual, Allah mempertahankan peran nabi untuk menjadi perantara dan pengarah umatNya. Namun karena pengaruh dunia sekular saat itu, umat Israel meminta raja meniru bangsa-bangsa lain di sekitar mereka saat itu untuk menjadi pemimpin politik dan sosial atas kehidupan tanpa berpikir panjang bahwa permintaan itu juga mengandung penolakan sebagian terhadap teokrasi dan mengadopsi kelemahan para raja sebagai manusia berdosa dalam tekanan politik dan sosial. Nabi dan Raja, secara bersama, akhirnya mengambil alih kepemimpian umat atas kehidupan bangsa Israel. Dalam perjalanan kehidupan umat Israel, kita bisa menyaksikan masalah-masalah yang muncul karena pilihan mereka untuk memiliki raja.

Tata Ibadah

                   Di Mesir, sebagai budak, mereka bertumbuh dengan pengertian sempit bahwa Firaun adalah “tuhan”, keberadaan supranatural. Ketika Musa dipilih dan mulai menjadi jembatan relasi antara Allah dan orang Israel, transisinya tidaklah mulus menimbang mereka memiliki mental budak yang tegar tengkuk. Pada masa ini belum ada tata ibadah yang sistematis dan terstruktur. Ibadah (abodah) adalah penghambaan diri kepada “sebuah” keberadaan supranatural. Ibadah yang tadinya mengarah ke Firaun, sekarang secara perlahan dialihkan kepada Yahweh melalui orang-orang pilihanNya. Dalam berbagai kesempatan Allah berfirman secara langsung baik kepada Musa, Harun, dan Miriam; maupun kepada seluruh umat; dan dalam kesempatan-kesempatan itu sikap ibadah mulai dibentuk.

Di padang gurun, Allah akhirnya menurunkan Dasa Titah dalam persiapan untuk membangun tata cara dan laksana ibadah umat Israel. Kemah Allah dan Tabut Perjanjian menjadi representative Allah yang dipakai untuk “lokasi” kehadiranNya dan sekaligus tempat para umat untuk menyembah Yahweh. Nantinya di Tanah Perjanjian, “lokasi” ini menjadi lebih permanen dengan dibangunnya Bait Allah di Yerusalem oleh Raja Salomo.

Di dalam Kitab Imamat kita bisa membaca bagaimana Tuhan memperkenalkan tata laksana ibadah secara progresif serta menentukan para wakil Tuhan dalam sebuah sistem ibadah: Imam Besar, Imam-imam, orang Lewi. Demikian juga tata ibadah yang berhubungan dengan bermacam-macam korban persembahan yang intinya melatih umat Allah untuk selalu menjaga hubungan dengan Penciptanya. Sistem ini berlangsung ribuan tahun sampai Sang Imam Besar Agung – Anak Domba Allah mereformasi tata ibadah umat pilihanNya dan menggenapi mekanisme dosa—pengampunan dengan persembahan yang sempurna. Jadi Tuhan memang sangat dinamis dan terbuka untuk mereformasi tanpa meniadakan kehendakNya dan tanpa kehilangan keterbukaan untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi karena dinamika manusia yang sering tegar tengkuk. Dia selalu punya cadangan skenario “plan B & C”.

Ada hal yang menarik untuk diperhatikan dalam proses pengembangan tata ibadah ini. Tuhan tidak melepaskan kehidupan rohani dari aspek hidup manusia lainnya. Kerohanian yang aturannya dibangun menggunakan pendekatan holistik. Sebut saja sistem hari Sabat, tahun Yobel, dan aturan binatang apa yang dipersembahkan, aturan tentang pernikahan dan keluarga; Tuhan menyentuh aspek fisik, psikologis, dan juga ekonomi. Pendekatan holistik inilah yang seharusnya dipertahankan ketika umatNya jaman ini mau membangun kerohanian individu maupun komunal.

Cara Hidup

                   Sebagai budak, orang Israel harus bekerja keras secara fisik, makan dibatasi, hidup sehari-hari diatur, identitas komunal maupun pribadi ditekan, dan bahkan kelahiran—kuhususnya anak laki-laki dibatasi agar tidak menjadi bangsa yang kuat (keterbatasan ini juga yang akhirnya menjadi latar belakang persiapan Musa menjadi pemimpin di lingkungan istana Mesir atas skenario Allah). Memang mereka mendapatkan supply daging, yang nantinya mereka rindukan saat kelaparan di padang gurun, namun tujuan bangsa Mesir menyediakan makanan hanyalah supaya orang-orang Israel memiliki tenaga dan energi untuk membangun kota-kota bangsa Mesir. Menjadi budak adalah cara mencari nafkah utama bagi orang-orang Israel untuk bertahan hidup.

Nantinya, sebagai pengembara nomaden di padang gurun, seluruh umat Israel harus bergantung total dan mutlak kepada providensia Allah yang secara rutin menyediakan manna, burung puyuh secara insidentil, demikian pula air minum. Providensia Allah ini juga dimainkan oleh Sang Dalang-Alam-Semesta untuk membentuk karakter mereka, baik karakter bangsa Israel sebagai umat pilihanNya, maupun karakter para pemimpin mereka Musa, Harun, dan Miriam.

Ketika mereka tiba di Tanah Perjanjian, Kanaan yang berlimpah dengan susu dan madunya, bangsa Israel bertransisi menjadi petani dan peternak. Adaptasi terhadap cara hidup baru sekali lagi harus segera dilakukan untuk bertahan hidup.

Norma Bermasyarakat

                   Di atas sudah dijelaskan bahwa Tata Ibadah baru yang disusun Tuhan dan dicatat dalam Kitab Imamat memakai pendekatan holistik yang terintegrasi dengan aspek-aspek lain kehidupan manusia, termasuk di dalamnya aspek sosial juga untuk membentuk tata dan norma masyarakat mulai dari keluarga. Di dalam Kitab Bilangan, Sang Dalang-Alam-Semesta juga membangun norma bermasyarakat bahkan bernegara untuk kehidupan berbangsa yang adil dan makmur.

                   Dari sekolompok gerombolan budak yang tidak memiliki norma yang terbentuk dan lebih mengadopsi norma kehidupan dari Masir, penjajahnya; lalu menjadi bangsa nomaden yang berkeliaran berputar-putar di padang gurun sambal terus protes; sekarang umat Israel siap untuk memasuki Tanah Perjanjian untuk menetap sebagai bangsa yang besar dan Umat Pilihan Yahweh. Norma bermasyarakat dibangun oleh Tuhan berdasarkan dan terintegrasi dengan tata ibadah mereka menjamin keadilan dan kemakmuran setiap suku, bahkan setiap individu dalam perannya masing-masing di masyarakat. Orang Lewi tidak memiliki tanah untuk diolah untuk menghasilkan nafkah, namun suku-suku lain harus menjamin para pelayan Tuhan di Kemah Allah bisa tetap hidup tanpa kekurangan. Keteraturan inilah yang nantinya menjadikan Israel besar dan disegani oleh bangsa-bangsa di sekitarnya.

Hard Questions (Pertanyaan-Pertanyaan Sulit) untuk New Normal Setelah 2020

                   Menuju ke masa depan, mungkin saatnya kita meninjau ulang dan terus mempertanyakan banyak hal yang sudah tidak mungkin Kembali ke “good old days”. Siapa kita secara komunal? Apakah kita masih memakai identitas “umat Allah” lama yang mengacu pada sinode, aliran, keanggotaan gereja, tradisi Kristen tertentu, tata gereja, cara bergereja dan bersakramen, gaya ibadah dan musiknya, atau status serta jabatan gerejawi dengan semua atribut tampilan pakaian?

                   Berikutnya kita perlu menjawab siapa sebenarnya sekarang yg memegang kepemimpinan aktual atas umat Allah? Apakah Pendeta, Penginjil, Majelis/ Pengurus gereja, Ketua Sinode, Rektor seminari, atau para “artis youtuber” yang belakangan ini berkeliaran di dunia maya? Apakah tata gereja dan struktur organisasi gereja dan sinode masih bisa dipakai sebagai acuan kendali dan arahan kepemimpinan umat Allah? Bagaimana seminari dan sekolah tinggi Teologi mengantisipasi ini? Apakah mereka tetap dengan paradigma lama dan hanya memindahkan pelajaran ke panggung daring?

                   Lalu, apakah kita masih mau mempertahankan tata ibadah kita yang lama? Bagaimana kita memisahkan praktek-praktek yang non-negotiable dari praktek-praktek yang non-essential dalam tata ibadah kita? Apakah kita masih harus melekat pada tata ibadah lama untuk sakramen, gedung gereja fisik sebagai pusat ibadah, persembahan, persekutuan jemaat, katekesasi, dan kemajelisan/ kepengurusan gereja? Bagaimana kita mengabarkan Injil dan memuridkan? Apa ukuran pertumbuhan gereja Ketika para umat bersliweran di dunia maya? Bagaimana mendeskripsikan keanggotaan gereja pada masa depan?

                   Selanjutnya, apakah kehidupan umat Allah dan termasuk penghidupan para hamba Tuhan masih mempertahankan cara lama? Bagaimana mengatur ulang cash flow dan pendanaan agar semua umat sejahtera dan tidak melupakan mereka yang melayani di rumah Allah? Bagaimana membantu para umat untuk memasuki jaman baru dengan cara mencari nafkah yang baru pula? Apakah kita sekedar membiarkan mereka karena pemahaman yang compartmentalized antara sacred dan non-sacred vocations? Bagaimana para hamba Tuhan bisa melayani dengan penuh hati jika mereka tidak diijinkan mencari nafkah dari luar gereja yang biasanya dianggap bukan kategori pelayanan? Apakah kitab oleh berdagang di dalam gereja?

                   Sementara yang terakhir, apakah kita membiarkan masyarakat umum dan khususnya komunitas iman Kristen secara natural membentuk equilibrium baru norma bermasyarakat? Apakah kita atau gereja siap dan mampu melakukan social engineering (rekayasa sosial) menuju terbentuknya tata masyarakat baru yang lebih Kristiani; mumpung dis-equilibrium masih berlangsung?

B. SIKAP-SIKAP YANG FATAL

                   Ketika perubahan-perubahan di atas sedang terjadi, fatalitas bukan hanya berasal dari kematian para pasien positif Covid-19, namun juga berasal dari ketidaksiapan yang berakhir pada sikap-sikap individu dan komunal yang memperburuk situasi. Berikut beberapa di antaranya. 

Menolak Perubahan & Tidak Rela Berubah

                   Banyak orang, baik umat Israel saat itu maupun beberapa dari antara kita jaman ini, yang masih hidup di masa lalu. Ikatan dengan “good old days” terlalu kuat sehingga di alam bawah sadarnya tersimpan utopia bahwa mereka akan kembali “normal” seperti dulu. Penolakan terhadap situasi baru, era baru, dan norma baru memunculkan ketersiksaan bagi dirinya sendiri dan komunitasnya karena perubahan tersebut sudah diinisiasi oleh Tuhan dan tidak bisa dihindari. Beberapa kali tercatat di Pentateuch umat Israel merasa masa lalu di Mesir merupakan “good old days” yang lebih baik dari masa kini dengan mengabaikan masa mendatang seperti yang dijanjikan Tuhan. Mereka fokus kepada makanan yang rutin mereka nikmati walau sebenarnya itu merupakan bagian dari perbudakan mereka. Perubahan menuju kehidupan yang penuh dengan “susu dan madu” juga ditolak karena tantangan dan kesulitan yang dipastikan menghadang, lalu membuat mereka kecil hati menghadapi orang Kanaan. Hasilnya adalah sikap yang menggerutu, protes, dan resistensi. Dalam beberapa insiden, Allah menghukum umat Israel secara komunal, dan juga individu-individu yang menjadi provokator. Keterbukaan terhadap sebuah era dan situasi baru diperlukan untuk membangun kerelaan beproses dalam sebuah transisi di mana umat Allah harus belajar banyak hal yang baru. Iman kepada dan harapan di dalam Tuhan memang menjadi krusial untuk melanjutkan kehidupan dengan damai sejahtera di hati dan pikiran.

Tegar Tengkuk

                   Dalam Bahasa Inggris disebut stiff-necked, artinya bangga dengan pendapatnya sendiri dan tidak mau melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam konteks umat Allah, tegar tengkuk berarti bersikeras memegang pendapatnya sendiri dan menolak untuk melakukan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Sikap ini juga diartikan, bukan saja keras kepala, tapi juga sebagai perlawanan terhadap Tuhan. Di dalam ke-tegar-tengkuk-an ini juga terkandung ketidak sabaran dan desakan untuk memutuskan sendiri dan melakukan keputusan itu secepatnya.

                   Ada beberapa insiden yang menunjukan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk dalam penilaian Tuhan. Salah satunya ketika mereka harus menunggu lebih lama kembalinya Musa dari puncak Gunung Sinai untuk menerima Dasa Titah. Mereka tidak sabar dan menyeret Harun untuk membuat patung lembu emas untuk disembah. Ketidak-sabaran dan ketegar-tengkukan mereka berakhir pada hukuman pemusnahan oleh Allah, sampai-sampai Musa harus menegosiasikan keberadaan bangsa pilihan itu di hadapan Allah. Ada beberapa insiden tegar tengkuk bangsa Israel yang akan lebih menarik dinikmati ketika membaca Lima Kitab Musa.

Menjadi Serupa Dengan Dunia

                   Setelah merdeka dari perbudakan di Mesir, bangsa Israel mulai membentuk identitasnya sebagai bangsa. Keluar dari tanah Mesir dan memulai perjalanan sebagai sebuah bangsa di padang gurun menuju Tanah Perjanjian, bangsa Israel mendengar, menyaksikan, bahkan berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain. Sedikit banyak pengaruh bangsa-bangsa lain menjadi dinamika dalam perkuatan identitas Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan. Pola hidup, sistem politik, juga khususnya ilah-ilah lain yang disembah oleh para bangsa di sekitar Israel bisa lebih menarik dan menggiurkan disbanding dengan arahan yang sudah ditentukan oleh Yahweh dan dimintakan lewat para pemimpin pilihanNya.

                   Di dalam Kitab Ulangan, sebelum bangsa Israel memasuki Tanah PErjanjian, Kanaan, yang bukanlah tanah kosong tanpa penghuni, Allah lewat Musa memberikan firman yang sangat jelas dan menjadi terkenal sepanjang sejarah, dan menjadi Amanat terakhir Musa sebelum dia naik ke Gunung Nebo untuk mati di sana. Amanat itu disebut SHEMA, yang konteksnya bukan sekedar perintah, namun sebuah security safety measure yang menjaga umat Israel terpengaruh oleh ilah-ilah lain di Kanaan lalu berjinah dengan ilah-ilah itu karena pada saat bersamaan mereka meninggalkan Yahweh yang harusnya menjadi Allah satu-satunya. Menjadi serupa dengan bangsa-bangsa lain di sekitar mereka, menyembah ilah yang bisa dilihat dan dipegang bahkan, meniru pola hidup mereka, semuanya menjadi nyata dalam kehidupan bangsa Israel dalam transisi mereka memasuki Tanah Perjanjian Kanaan. Ketika kita membaca Kitab-kitab di Alkitab setelah Pentateuch, kita akan melihat sebuah pola yang terulang terus bahkan sampai Yesus Sang Mesias datang ke dunia: terpengaruh, ingin menjadi serupa dengan bangsa lain di sekitar mereka, meninggalkan Tuhan, menyembah ilah lain, dihukum Tuhan, bertobat di bawah pimpinan Hakim atau Nabi silih berganti, kembali kepada Tuhan, dan diberkati lagi. Pola ini menjadi pola abadi sepanjang jaman umat Allah, bahkan sampai sekarang. Karena itu kita harus waspada!

C. KETETAPAN HATI & KEWASPADAAN: URGEN!

Bagian ini mengakhiri tulisan yang bersifat reflektif dan perenungan atas apa yang pernah terjadi dalam sejarah umat Allah. Ketika melihat situasi masa sekarang maka sangatlah penting sebagai umat Allah untuk memiliki ketetapan hati bahwa kita harus melanjutkan hidup dalam providensiaNya sambil waspada terhadap resiko yang bisa saja terjadi karena keabaian dan ketidak-waspadaan kita akan ancaman dari pelbagai perubahan yang terjadi. Allah menguasai dan bekerja dalam sejarah umat manusia. Dia tetap memainkan peranNya sebagai Dalang Alam Semesta. Karena itu, berikut adalah beberapa hal yang bisa menjadi take-away dari tulisan ini.

Letting Go – Merelakan

                   Ada “really good old days” yang harus kita lepas dan relakan. Ya! Beberapa pencapaian, kebanggaan, stabilitas, kesuksesan, rutinitas yang nikmat, persepsi public, dan banyak hal lain yang kita miliki pada awal tahun 2020 ini sebelum pandemi Covid-19 ini terjadi. Hal-hal tersebut tidaklah mungkin kita cengkeram terus sekarang untuk masa-masa ke depan. Semuanya sudah dan sedang berubah! Untuk itulah kita, mau tidak mau, harus membangun semuanya ulang dari awal dengan memperhitungkan trajektori masa depan. Ketika kita mencengkeram erat hal-hal tersebut padahal perubahan merampasnya dari tangan kita, maka yang terjadi adalah rasa sakit dan luka. Namun jika kita merelakannya, maka rasa damai dan sejahtera itu akan bersemi di dalam hati dan pikiran kita, apalagi jika kita memandang kepada Allah yang adalah Sang Dalam Alam Semesta.

Move-on – Melanjutkan Hidup

                   Keterikatan pada masa lalu dan menyesali hilangnya good old days akan melumpuhkan di masa kini sekaligus menghancurkan masa depan. Hidup kita tidak berakhir pada masa kini. Masih ada misi khusus dari Tuhan bagi kita masing-masing yang harus kita tuntaskan di masa depan walau mungkin belum jelas terlihat. Namun secara umum, sebagai umatNYa, kita tetap harus menjadi garam dan terang dunia yang membuat dunia selalu menjadi lebih terang dan asin, menjadi lebih baik untuk lingkungan sekitar kita. Misi generik umat Allah sebagai garam dan terang belum pernah dibatalkan, dan harus anda dan saya lanjutkan. Iman kepada, pengharapan di dalam, dan kasih dari Tuhan Sang Dalang Alam Semesta seharusnya lebih dari cukup buat kita untuk melanjutkan hidup ke masa depan tanpa menoleh ke belakang lalu lumpuh karena berat hati.

Shema – Pengulangan Firman Tuhan

                   Mandat ini khusus diberikan lewat Musa dengan mempertimbangkan bahwa tantangan fisik mengalahkan bangsa-bangsa di Kanaan tidak lebih sulit dari pada mewaspadai godaan ilah-ilah lain yang menggiurkan. Solusinya adalah mengulang terus Firman Tuhan dengan proyeksi ke depan bagi generasi berikutnya. Hanyalah Firman Tuhan yang bisa membekali umat manusia dengan kekebalan tubuh terhadap serangan dan godaan dari luar. Yahweh mengerti hal ini dan secara eksplisit Dia memerintahkan untuk mengajarkannya (impressed – shema) berulang-ulang kepada generasi berikut, yang tentunya juga secara berulang-ulang harus dikonsumsi oleh para orang tua sebagai generasi masa kini. Jadi ada solusi intergenerasi (inter-generational solution) dalam mewaspadai kehancuran masa depan di tengah sutuasi sulit transisi hari-hari ini.

23 Agustus 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D. (Education Specialist, Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *