“Membangun Kerangka bagi Pelayanan Lansia: Sebuah Usulan”

Tidak bisa disangkali bahwa LANSIA merupakan kelompok umur yang paling tertekan dalam masa transisi drastis dan cepat saat ini menuju “normal baru” setelah pandemik Covid-19 yang belum kelihatan ujungnya. Penyebabnya adalah karakteristik natural lansia yang resisten dan enggan untuk berubah padahal transisi adalah sebuah keharusan. Untuk itu, selain anak-anak dan remaja yang akan menjadi generasi penerus Komunitas Iman Kristen, maka lansia harus menjadi fokus dan prioritas pelayanan kita. Sayangnya, berdasarkan pengamatan subyektif, pelayanan untuk lansia belum cukup untuk membuat mereka bisa menikmati transisi sekarang ini dan bahkan menjadi lebih stressful (tertekan).

Fakta & Realita Pelayanan Bagi Lansia

            Di bawah ini adalah beberapa fakta dan realita yang memperparah situasi hidup para lansia dan masalah-masalah yang timbul di seputar mereka dan mempengaruhi keluarga dan lingkungan mereka.

#1. Absennya program persiapan menjadi tua yang berujung pada ketidak-siapan menyambut masa tua yang lalu memunculkan konflik keluarga dan sosial.

#2. Harapan lansia kepada anak-anak menjadi kosong karena mereka juga sedang sibuk menjadi “sandwich generation”.

#3. Pelayanan-pelayanan yang ada tersegmentasi dan tidak terkordinasi karena setiap pihak fokus pada areanya masing-masing

@a. Rumah Sakit (geriatrik) fokus pada kesehatan kuratif terhadap macam-macam symptoms fisik dari keluhan yang diterima.

@b. Gereja fokus kepada kerohanian yang diasumsikan membutuhkan pendekatan yang sama dengan kelompok usia lainnya.

@c. Keluarga fokus kepada pemenuhan finansial yang kadang hanya mengandalkan asuransi yang sering tidak dimiliki oleh lansia. Keadaan ini biasanya berakhir di Diakonia gereja.

@d. Negara tidak memiliki sistem yang menjadi safety net bagi lansia kecuali bagi ASN dan peserta BPJS Tenaga Kerja.

#4. Ada area kehidupan lansia lainnya yang hampir tidak tersentuh oleh pihak manapun.

Berangkat dari gambaran di atas, perlu digumulkan sebuah kerangka pelayanan bagi lansia yang nantinya bisa dipakai oleh pihak manapun demi optimalisasi kehidupan lansia. Berikut adalah sebuah USULAN kerangka hasil pembelajaran penulis yang belum selesai dan perenungan sebagai manusia lanjut usia (manula).

Beberapa Pertanyaan

            Penulis sengaja memakai format pertanyaan untuk menggugah pemikiran kita dan membuka kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di bawah bisa disesuaikan dengan situasi kondisi dan kapasitas masing-masing.

#1. Apakah ALASAN UTAMA Kita Melayani Lansia?

Setiap kita punya alasan masing-masing sehingga berbeban dan terpanggil melayani lansia. Alasan pertama biasanya karena kita sendiri memasuki usia lanjut dan membutuhkan teman dan komunitas untuk berjalan bersama melewatinya. Hal ini bukanlah kesalahan, namun kita harus melihat lebih (beyond) dari realita pribadi menjadi tua. Jika kita berhenti sejenak dan merenungkan apa kata Alkitab tentang manula, maka kita akan sadar bahwa ada banyak potensi yang akan tersia-siakan bila kita mengabaikan para lansia.

Katakan saja “hikmat/ wisdom” yang selalu dihubungkan dengan “rambut putih” atau orang tua. Sebagai pendidik yang pernah meneliti intelektualitas manusia saat study S3, penulis sangat sadar bahwa hikmat tidak bisa dipelajari atau dibeli dari sekolah atau universitas, bahkan seminari. Hikmat juga tidak diwarisi dari orang tua, juga bukan intelektualitas dan bakat yang diterima sebagai talenta dari Tuhan, entah 5, 2, atau cuma 1. Hikmat hanya bisa dimiliki seseorang ketika dia berjalan bersama Tuhan dalam FirmanNya melewati pengalaman hidup. Hikmat inilah yang bisa dipakai oleh Komunitas Iman Kristen melanjutkan hidupnya menuju era baru, normal baru. Karena itu nasehat berhikmat para lansia harus didengar, dicerna, direnungkan, dan dijadikan arah menuju masa depan.

Potensi lain yang tersia-siakan adalah “pengaruh/ influence” yang dimiliki seorang lansia hasil relasi luasnya dengan berbagai orang, dipelbagai posisi dan jabatan, sepanjang hidupnya. Pengaruh ini tidak bisa diwariskan kepada siapapun yang lebih muda. Ketika anak muda atau milenial berebut menjadi “influencers” dengan motivasi apapun, kita sering lupa untuk memakai potensi lansia ini bagi kemuliaan Tuhan. Di atas ini hanya dua dari sekian pontensi lansia yang tersia-siakan.

Penulis memberikan bonus dengan menunjukan hal ketiga: kelambanan dan “menganggur”nya (doing nothing) lansia yang sering dikecam dan disesali ternyata merupakan aset juga. Sila baca di https://bit.ly/buaya-tua-dalam-newnormal .

#2. Adakah PROGRAM SISTEMATIS Untuk Mempersiapkan Semua Individu Dalam Komunitas Anda Menjadi Tua?

Proses menjadi tua masih banyak dianggap sebagai proses natural yang mengasumsikan seorang individu belajar mandiri dengan melihat orang lain atau generasi sebelumnya. Konsep “otomatis” di sini harus diubah menjadi “kesengajaan” (intentionality) dengan program yang sistematis. Jika ingin belajar dan diskusi tentang pemrograman ini sila baca dulu https://bit.ly/GerontologyCurr dan penulis terbuka untuk berdiskusi dan membantu.

#3. Apakah Pelayanan Yang Ada Sudah Menyentuh SEMUA Aspek Kehidupan/ HOLISTIK?

Biasanya, pelayanan yang dimiliki berfokus pada aspek spiritual dan kesehatan. Namun harus disadari bahwa banyak aspek lainnya yang harus disentuh sebelum seseorang menjadi tua. Tulisan di atas mengusulkan aspek-aspek: A. Fisik & Kesehatan, B. Sosial, C. Psikologis, D. Spiritual, E. Ekonomi, bahkan F. Legal. Kita akan menemukan banyak sekali cerita tentang masalah-masalah yang muncul berkaitan dengan semua aspek tersebut terlambat diantisipasi. Repotnya semua aspek ter-rajut (knitted) dan tidak bisa dipisah-pisahkan.

#4. Apakah Pelayanan Semua Aspek Di Atas TERKORDINASI Secara Holistik?

Tidak ada organisasi yang mampu mengerjakan pelayanan bagi semua aspek di atas secara mandiri tanpa kerja sama dengan pihak lain. Paling tidak kita harus mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang ahli dalam segala bidang. Untuk itu diperlukan networking terprogram agar semua macam individu lansia terlayani dengan baik.

#5. SEBERAPA DINI Seseorang Harus Mulai Belajar dan Mempersiapkan Masa Tuanya?

Tidak ada jawaban yang benar untuk pertanyaan ini. Yang harus disadari adalah semakin dini seseorang mempersiapkannya, makin ringan dampak yang akan dialami ketika masalah-masalah yang berkaitan dengan proses penuaan muncul menghadang. Karena itu, jika kerangka pelayanan sudah disiapkan, maka mimbar-mimbar gereja harus dipakai oleh para pimpinan untuk mendorong semua konstituen untuk mendukung dan perpartisipasi. Bagi lansia yang sudah terlanjur menjadi lansia namun belum pernah mempersiapkannya, maka harus ada extra support system bagi mereka.

Hal lain yang harus disadari adalah bahwa keluarga merupakan “organisme” yang bertumbuh dan di setiap fase kehidupan ada pengetahuan, sikap hati, dan ketrampilan yang dibutuhkan. Sila lihat https://bit.ly/ParentsInstitute.

#6. Adakah Tersedia TEMPAT BELAJAR Bagi Para Pemimpin & Hamba Tuhan Yang Ingin Mendalami Pelayanan Lansia?

Di Indonesia pelayanan bagi lansia dipelajari baru dalam bentuk mata kuliah yang sangat minim membekali para pelayan lansia ini. Perlu adanya keberanian semua Sekolah Tinggi Teologi dan Universitas Kristen untuk mengembangan kurikulum dan jurusan/ falkutas yang menargetkan banyak spesialis bagi pelayanan lansia, khususnya di Indonesia. Kita harus sadar bahwa keahlian/ spesialisasi tidak mungkin diabaikan dan dilewati. Bayangkan saja dioperasi oleh seorang “dokter” yang tidak pernah belajar di fakultas kedokteran dan belajar membedah manusia. Resikonya tangible – akan jelas terlihat kasat mata (kematian karena salah bedah). Harus ada yang menjadi spesialis danlam pelayanan lansia ini!

#7. Terakhir: Siapakah Bersedia Menjadi MOTOR Supaya Terwujud Pelayanan Lansia Yang Optimal?

Kita patut bersyukur dengan terbentuknya “FOR-KOM LANSIA BERLIAN”! Doa penulis adalah semoga For-kom ini bisa menjadi motor!

12 September 2020

Ishak Suhonggo W., Ed. D.; (Educational Specialist; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *