SURVIVING THE NEW ERA: SUGGESTED ACTION PLAN FOR CHRISTIAN SCHOOL – BERTAHAN HIDUP DI ERA BARU:USULAN RENCANA TINDAKAN UNTUK SEKOLAH KRISTEN

Pada akhir Agustus 2020 lalu penulis sempat mem-posting sebuah artikel pendahuluan dengan judul “Surviving The New Era – Bertahan Hidup Di Era Baru” (https://bit.ly/surviving-new-era). Kali ini artikel tersebut dilanjutkan dengan fokus tertuju kepada komunitas sekolah Kristen. Alasan utama untuk menyasar sekolah Kristen adalah karena kondisi sebagian besar mereka yang sudah “sulit” sebelum pandemi Covid-19, dan makin menjadi parah pada masa ini, apalagi dihadapkan kepada fakta bahwa pandemi ini akan terus berlangsung entah sampai kapan.

Di artikel tersebut di atas, penulis mengajak pembaca untuk bercermin pada perubahan-perubahan yang terjadi saat bangsa Israel dalam transisi dari perbudakan di Mesir menuju kelimpahan di “Tanah Yang Penuh Dengan Susu dan Madu” sebagai Bangsa Pilihan Allah. Beberapa perubahan yang dibahas berkaitan dengan identitas komunal, kepemimpinan umat, tata ibadah, cara hidup, dan norma bermasyarakat. Aplikasi langsung yang diberikan tertuju kepada Komunitas Iman Kristen atau dalam jangkauan lebih sempitnya – gereja. Kali ini penulis ingin mengajak pembaca mengalihkan perhatian kepada sekolah-sekolah Kristen, yang seharusnya juga adalah bagian dari Komunitas Iman Kristen. Mari kita mulai bergumul!

KRISIS ADALAH KESEMPATAN YANG MENYEDIAKAN MOMENTUM

            Dalam filosofi Tionghoa, tercermin dari penulisannya dalam Bahasa Mandarin, bahwa kata “krisis” 危机 (wēi jī) berasal dari kata 危险 (wēi xiǎn, danger) dan 机 会 (jī huì, chance). Karena itu setiap 危机, wēi jī (krisis), selalu memiliki 2 unsur: pertama 有危 (yǒu wēi, ada bahaya), kedua 有机 (yǒu jī, ada kesempatan). Jadi di setiap krisis, walau memang mengandung bahaya, selalu ada kesempatan yang mengarah pada harapan dan sukses. Diaplikasikan ke masa sekarang ini, maka krisis akibat pandemi Covid-19 ini sebenarnya mengandung peluang dan kesempatan, yang bagi penulis, juga menyediakan momentum untuk transformasi menuju kondisi yang lebih baik dengan menekankan dan menggaungkan beberapa nilai sekolah Kristen dengan lebih keras lagi.

            Dalam konteks sekolah Kristen, tentunya momentum ini harus dimanfaatkan bersama dengan lembaga-lembaga yang dari awal dirancang Tuhan untuk menjalankan Pendidikan: gereja dan keluarga. Dalam artikel lain sebelumnya penulis melempar sebuah konsep yang disebut co-schooling (https://bit.ly/co-schooling). Penekanannya adalah kerjasama semua pihak demi generasi berikut. Sekolah Kristen termasuk di dalam usaha co-schooling tersebut, bahkan diharapkan menjadi narasumber utama untuk teknis-teknis pendidikan. Dalam kerangka co-schooling itulah muncul banyak kesempatan dan momentumnya adalah sekarang! Berikut adalah hanya beberapa kesempatan yang seharusnya bisa ditangkap dan dimanfaatkan.

1. Kesempatan Mentransformasi dan Memberdayakan Masyarakat (Yerusalem)

Masyarakat, khususnya mereka yang termasuk piramid sosio-ekonomi bagian bawah, adalah kelompok yang paling terdampak oleh krisis akibat pandemi ini. Dampaknya bahkan sangat merusak stabilitas ekonomi, struktur keluarga, pendidikan anak, bahkan kesehatan jiwa semua orang. Adalah sulit mengukur dampak-dampak tersebut karena keterkaitan satu dengan yang lain dalam jaringan sebab akibat. Karena itu, satu solusi saja belum cukup untuk mengurai masalah kehidupan saat ini. Dunia Pendidikan, khususnya sekolah Kristen merupakan pintu masuk menuju kehidupan masyarakat sampai lapisan terbawah dan menembus ruang privat dalam setiap keluarga. Untuk itu sekolah Kristen harus menjadi kreatif dengan memunculkan beberapa tindakan dan program.

Pertama, sekolah Kristen harus memunculkan program yang memberdayakan para konstituen menjadi orang tua yang menjalankan perannya bagi anak-anak. Program parenting ini harus lebih memberdayakan dari sekedar katekesasi atau konseling pra-nikah. Ada banyak kebutuhan, sikap hati, dan ketrampilan untuk menjalankan peran sebagai orang tua, yang baru disadari dalam situasi krisis sekarang ini. Sebuah area yang saat ini menjadi urgen adalah parenting for academic development of the children (Lihat https://bit.ly/Par2NewNorm).  Kedua, yang berhubungan dengan usulan program pertama adalah program pemberdayaan keluarga supaya unit terkecil masyarakat bisa menjadi benteng terakhir menahan dampak krisis pandemi ini. Sekali lagi, pengetahuan, sikap hati, dan ketrampilan membangun dan mempertahankan relasi antar anggota keluarga dalam rentang masa inter-generasi sangatlah diperlukan. Ketiga, sekolah Kristen bisa mengelola komunitas konstituennya (orang tua, guru, siswa di usia yang memungkinkan, gereja) untuk menjadi kekuatan ekonomi melalui panggung jejaring wiraswasta untuk industri barang dan jasa skala kecil dan menengah. Di masa pandemi, pergerakan ekonomi daring harus menjadi pembelajaran dan pemberdayaan para orang tua agar mereka juga sanggup membayar uang sekolah yang menjadi sumber penghidupan sekolah untuk menyejahterakan para guru. Bahkan fasilitas fisik sekolah (sebenarnya juga gereja) yang saat ini belum terpakai maksimal bisa disesuaikan dan dimanfaatkan untuk ini.

Tiga contoh di atas, jika dikelola dengan baik, akan mampu memperuncing piramida sosio-ekonomi sehingga kesenjangannya tidak lagi terlalu lebar. Pengelolaan proses ini tentunya harus mengingat prinsip Alkitab agar kita tidak menjadi hamba diri, mamon, dan kenikmatan (https://bit.ly/Danger3Lovers), tapi lebih fokus kepada usaha memberdayakan sesama demi kemuliaan Tuhan. Jika masyarakat terberdayakan lewat sekolah Kristen, maka sistem dukungan terhadap keberlanjutan (sustainability) sekolah Kristen akan otomatis menjadi lebih kuat.

2. Kesempatan Menjadi Garam Dan Terang Dunia (Yudea)

Ketika proses transformasi dan pemberdayaan masyarakat di poin A sudah berjalan dan sudah dirasakan manfaatnya, maka masyarakat akan menghargai kehadiran sekolah Kristen sebagai garam dan terang dunia yang sesungguhnya. Dan jika proses ini dijalankan dalam sebuah kolaborasi yang indah dengan gereja, maka eksistensi gereja juga akan makin disadari, dirasakan, dihargai, dan disyukuri.

Matius 5:13-16 adalah perintah Tuhan yang akhir-akhir ini menjadi firman yang paling terkenal dilanggar oleh sekolah Kristen sehingga secara tidak langsung sekolah Kristen dianggap sebagai “pelita yang ditaruh di bawah gantang” dan “garam yang menjadi tawar dan tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan dinjak orang” . Sangat sering terdengar keluhan atau celaan bahwa sekolah Kristen adalah sekolah mahal, yang menjual pendidikan hanya untuk keluarga yang berduit. Memang hal ini tidak sepenuhnya benar karena masih banyak sekolah Kristen yang bahkan menyerahkan besaran uang sekolah kepada kerelaan orang tua. Namun persepsi masyarakat, bahkan persepsi jemaat gereja sendiri, haruslah ditransformasi.

Krisis pandemi ini adalah kesempatan untuk mengubah persepsi yang tidak sepenuhnya benar itu dan juga merupakan sebuah momentum untuk menancapkan eksistensi gereja dan sekolah Kristen yang memberkati serta membawa damai sejahtera bagi masyarakat yang sedang terhimpit. Orientasi kepada apa yang dirasakan dan dialami akan menjadi sebuah bukti dan kesaksian kuat yang manjadi modal utama peningkatan kapasitas untuk dampak yang lebih kuat dan lebih luas. Usaha ini bukan sekedar sebagai proses pencitraan, namun merupakan usaha untuk kembali menancapkan eksistensi di teangah masyarakat luas yang sedang terhimpit.

3. Kesempatan Merekayasa Masyarakat Ke Arah Yang Positif (Samaria)

Kerusakan masyarakat sudah sangat nyata terbukti, terasa, terlihat, terdengar, dan terpersepsi sejak sebelum pandemi, apalagi setelah krisis ini berlangsung berbulan-bulan tanpa kelihatan ujungnya. Korupsi, komodifikasi (mengukur segalanya dengan komoditi),  diskriminasi, kriminalitas, kekerasan seksual, pembunuhan janin, bunuh diri, dan kehancuran keluarga; hanyalah sebagian pembusukan masyarakat yang bisa sebut. Kekristenan kelihatan tidak berdaya menahan apalagi menetralisir proses pembusukan ini.

Dalam situasi seperti inilah Komunitas Iman Kristen terpanggil untuk merekayasa masyarakat ke arah yang dikehendaki Tuhan, seperti “Doa Bapa Kami” yang diajarkan Yesus sendiri: mendatangkan KerajaanNya di bumi seperti di sorga. Mau tidak mau, tidak bisa tidak, sekolah Kristen sebagai lembaga yang seharusnya mendidik, bersama dengan gereja, harus dengan sengaja (intentional) menggiring masyarakat menuju arah yang lebih sehat, lebih bersih, dan lebih beradab. Rekayasa sosial harus dilakukan sehingga sang “garam” sanggup menahan pembusukan lebih lanjut dan si “terang” bisa menelan kegelapan.

Masa ini adalah masa di mana masyarakat masih bingung tentang masa depan dan membutuhkan petunjuk untuk melanjutkan hidup. Kegalauan saat ini bisa dianggap sebagai dis-equilibrium atau ketidak-teraturan kehidupan yang sedang berproses menuju equilibrium (keteraturan) baru. Inilah kesempatan yang menyajikan momentum bagi sekolah Kristen dan gereja untuk memainkan perannya sesuai yang dikehendaki Tuhan menuju arah yang mendatangkan shalom bagi umat manusia.

4. Kesempatan Proklamasi Kabar Baik (Ujung Bumi)

Melanjutkan poin C di atas, Ketika masyarakat membutuhkan jawaban bagi keruwetan kehidupannya, maka “Kabar Baik” menemukan momentumnya untuk diproklamasikan. Ketika manusia mencari arti hidup, kepuasan tertinggi, keadilan, pengharapan yang kokoh, identitas diri, dan kemerdekaan sejati; maka “Kabar Baik” menjadi rujukan di mana semua itu ditemukan.

SYARAT-SYARAT PEMULIHAN SEKOLAH KRISTEN

                        Pada bagian ini penulis akan mengusulkan rencana tindakan yang menjadi syarat-syarat untuk pemulihan sekolah Kristen dari krisis yang disebabkan pandemi ini. Enam syarat ini merupakan usulan lanjutan dan penekanan ulang dari apa yang sudah diusulkan sebelumnya dalam artikel “Memformulasikan Pendidikan Kristen Setelah Covid-19” (https://bit.ly/ReFormPdkKrStlhC19). Mari kita renungkan satu demi satu.

1. Keahlian

Ketika berbicara tentang sekolah Kristen yang sedang “menderita” karena krisis, maka keahlian bidang pendidikan tidak bisa diabaikan. Akibat salah urus oleh orang yang bukan ahli dalam pendidikan akan intangible atau tidak terlihat nyata dan baru terasa belasan tahun setelahnya. Berbeda dengan dunia kedokteran yang biasanya akan segera terlihat nyata jika terjadi salah penanganan. Banyak sekolah Kristen yang ditangani oleh mereka yang bukan ahli di bidang pendidikan selama bertahun-tahun sehingga akibatnya baru disadari pada masa krisis seperti saat ini. Pemerintah memang berusaha terus untuk mensertifikasi guru dan kepala sekolah, namun justru pimpinan tertinggi yang mengendalikan keseluruhan sekolah swasta (Kristen) tidak terperhatikan. Akibatnya banyak Yayasan Pendidikan atau sekolah Kristen runtuh dan memerlukan penanganan lebih, dan pastinya tidak bisa tanpa keahlian pendidikan. Keahlian di sini bukan sekedar “pernah” manjadi guru, dosen, atau kepala sekolah; tetapi apakah yang bersangkutan menguasai konsep dan detil operasional serta teknis pendidikan yang harus diperoleh lewat program akademis kependidikan bahkan sampai tingkat tertinggi.

2. Kepercayaan dan Keterbukaan

Berbicara tentang keahlian pendidikan di atas, maka sampailah kepada pertanyaan apakah pemangku kepentingan tertinggi (yayasan) mempercayai seseorang yang memang memiliki keahlian, apalagi kalau yang bersangkutan bukan dari internal organisasi tersebut. Ketika seseorang yang memiliki keahlian ditemukan, maka pertanyaan berikutnya adalah apakah sekolah Kristen berani terbuka dan jujur untuk menunjukan semua “penyakit” sehingga bisa didiagnosa dan dicarikan “obatnya”. Lalu Ketika “obatnya” sudah diberikan, selanjutnya sampai kepada kerelaan dan keberanian untuk “menelan obat” tersebut. Karena itu, untuk pemulihan, maka sekolah Kristen harus membangun tekad untuk mengusahakan kepercayaan dan keterbukaan bagi proses pemulihannya.

3. Proses “Turun Mesin” (Overhauling)

Penjelasan tentang proses ini sudah pernah ditulis di artikel “Memformulasikan Pendidikan Kristen Setelah Covid-19” (https://bit.ly/ReFormPdkKrStlhC19). Tekanannya terletak kepada totalitas pembongkaran dan penyusunan ulang demi fungsi dan efisiensi menuju masa depan. Sila pelajari lewat tautan di atas.

4. Amputasi

Di dalam proses pemulihan yang kita diskusikan, pasti nantinya ada elemen, fungsi, atau personil yang sudah tidak mungkin dipakai untuk membawa sekolah Kristen menuju masa depan. Hal ini tidak mungkin kita hindari dan harus diterima dengan lapang dada sebagai kenyataan yang mungkin pahit dan menyakitkan. Dalam artikel pendahuluan (https://bit.ly/surviving-new-era) ditunjukan sikap-sikap apa saja yang fatal dalam menjalani proses menuju pemulihan yang bisa diaplikasikan kepada isu yang kita diskusikan dalam artikel ini. Lalu dilanjutkan dengan ketetapan hati untuk merelakan (letting go) demi melanjutkan kehidupan (move on) menurut panduan Firman Tuhan yang harus terus menerus dipelajari (shema). Semuanya diperlukan demi pemulihan sekolah Kristen.

5. Penamaan Ulang (Rebranding)

Rebranding merupakan sebuah strategi pemulihan dengan membuat nama (naming process) yang baru, simbol, logo dan desain, dan membuat sebuah identitas brand yang baru. Proses ini merupakan upaya yang dilakukan oleh sekolah Kristen untuk mengubah total atau memperbaharui kesan dan persepsi yang telah ada agar menjadi lebih baik dan cocok dengan kondisi kekinian dengan tidak mengabaikan tujuan awal pendirian sekolah Kristen tersebut. Proses ini juga mencakup pembangunan infrastruktur dan sumberdaya manusia yang sesuai dengan identitas baru yang diinginkan.

6. Pemosisian Ulang (Repositioning)

Ini adalah proses pemosisian ulang dengan memilih peran dan tempat sekolah Kristen tertentu di tengah masyarakat. Proses ini tidak bisa dilepaskan dari proses rebranding di atas. Harapannya sekolah Kristen yang sempat sulit bisa kembali diterima oleh komunitasnya dan meraih dukungan untuk keberlanjutan dan menjadi berkat yang dialami dan dirasakan baik oleh para orang tua maupun anak-anaknya. Pemosisian ulang juga bisa memperluas dan memperkuat jangkauan dari sekolah Kristen tersebut.

REFLEKSI AKHIR

            Apakah semua sekolah Kristen memerlukan semua Langkah usulan di atas? Sila direnungkan dan ditanyakan ulang. Hanya pemangku kepentingan langsung yang bisa menilai. Artikel ini, seperti artikel sebelumnya hanyalah sebuah usul sebagai respon dari banyak masukan atau tepatnya, teriakan minta tolong, yang penulis terima selama menjalani masa pandemi ini. Penulis terbuka untuk komunikasi dan diskusi demi keberlanjutan sekolah-sekolah Kristen kita.

17 Oktober 2020

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D.

(Education Specialist, Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *