CO-SCHOOLING: Apa yang Dibutuhkan Orang Tua Dalam Menghantar Anak Menjadi Generasi Gemilang?

Co-schooling adalah sebuah konsep baru yang penulis ingin rekomendasikan. Selama ini, schooling didominasi oleh sekolah-sekolah formal dan secara tidak sengaja, melumpuhkan orang tua dalam parenting. Pandemi Covid-19 ini memaksa semua pihak untuk menggeser pendidikan anak-anak ke home-based-learning. Hal ini bukan berarti guru dan sekolah mengalihkan perannya ke para orang tua secara total sampai-sampai ada orang tua yang enggan membayar uang sekolah, bahkan sekarang terpantau fenomena pendaftaran untuk PAUD menurun drastis karena orang tua di tengah kesulitan ekonomi lebih memilih menghemat keuangan dengan tidak menyekolahkan anaknya di PAUD, apalagi ijasah PAUD tidak menjadi syarat wajib lagi untuk pendaftaran di SD. Mereka berpikir sanggup “mendidik” anak-anak mereka sendiri tanpa sekolah. Co-schooling artinya bahwa pendidikan anak-anak sekarang dikerjakan bersama oleh orang tua dan sekolah, dan semoga gereja juga berperan dalam hal ini. (https://bit.ly/Par2NewNorm)

Situasi Orang Tua Saat Ini

            Orang tua memang tidak pernah dipersiapkan atau mempersiapkan diri untuk situasi seperti sekarang ini. Setelah setahun menjalani kondisi pandemi dan belum terlihat kepastian kapan berkahirnya pandemi dan bagaimana kehidupan setelahnya, maka para orang tua terjebak dalam beberapa jerat, khususnya berhubungan dengan pendidikan anak-anak mereka. Perasaan tertekan yang ditumpuk hari demi hari akhirnya menumpuk. Mari kita telaah beberapa masalah yang menenggelamkan orang tua.

Sebut saja salah satunya, FRUSTASI. Frustasi menjadi kata yang mewakili kondisi mental dan emosi para orang tua. Masalah kesehatan, ekonomi, persekolahan anak, keterbatasan infrastruktur, konflik relasi di dalam dan di luar keluarga inti; semuanya menumpuk dan rumit. Kompleksitas masalah yang harus mereka hadapi memunculkan kegalauan yang dalam jangka panjang menjadi frustasi. Dan ketegaran mental yang terbatas akhirnya ada di antara mereka bahkan mengakhiri hidupnya dengan tragis.

KETIADAAN KAPASITAS untuk mengatasi masalah-masalh tersebut di atas. Fokus kepada kapasitas orang tua dalam mendidik anak-anaknya, tidak ada pembelajaran yang cukup bagi para orang tua itu sebelum mereka menjadi orang tua. Baik negara maupun Gereja tidak memiliki program parenting (meng-orang-tua-i) yang sistematis dan terkelola dengan baik. Yang ada hanyalah program persiapan pernikahan yang juga membicarakan banyak hal lain dan berlangsung secara singkat. Lalu ada pula topik-topik lepas tentang parenting yang biasanya muncul pada bulan keluarga. Itupun dalam bentuk seminar atau khutbah inspirasi, tanpa kurikulum dan pembelajaran yang intensif.

SIKAP & PARADIGMA LAMA juga menjadi faktor yang memperburuk situasi. Dalam mendidik anak-anaknya, orang tua sebelum pandemi banyak yang beranggapan bahwa tanggung jawab untuk membuat anak terdidik ada pada sekolah, dan untuk membuat anak lebih rohani adalah tanggung jawab Gereja lewat Sekolah Minggu. Lalu yang menjadi bagian orang tua adalah menyediakan dana dan sekedar mengantar anak-anak ke sekolah dan Gereja. Di masa pandemi dengan protokol kesehatan yanga ketat maka paradigma lama ini tidak bisa diaplikasikan lagi. Namun ironinya banyak orang tua yang tidak rela untuk move on meninggalkan paradigma lama tersebut. Jika situasi ini terus terjadi maka yang dikorbankan adalah nasib anak-anak dan masa depan bangsa. Anak-anak kita akan menjadi generasi yang terhilang, the lost generation.

KETIADAAN SISTEM PENDUKUNG makin memperparah semua sendi masyarakat sampai ke unit terkecilnya, keluarga. Di sinilah kehadiran Negara, atau paling tidak Lembaga Agama, Gereja, sangatlah dibutuhkan. Harus ada program-program yang memberdayakan para orang tua untuk mengerti, bertekad, dan turun tangan dalam mendidik anak-anaknya. Bukan hanya bermacam-macam program, tapi juga pusat-pusat pemberdayaan orang tua harus diciptakan baik di lokasi yang tersedia maupun di dunia maya. Dan sebagai yang selama ini memiliki kapasitas lebih dalam Pendidikan, sekolah-sekolahpun harus menambahkan program-program, bahkan menjadikan sekolah-sekolah sebagai pusat pemberdayaan pemberdayaan orang tua yang dibutuhkan

Beberapa Hal Yang Dibutuhkan Orang Tua Saat Ini

            Berikut adalah beberapa hal praktis dan urgen, yang dibutuhkan orang tua, yang dibagi ke dalam 3 .klasifikasi besar.

HEAD (KEPALA)

            HEAD menunjuk kepada pengetahuan, dalam hal orang tua, pengetahuan minimal yang memampukan mereka menjalankan peran sebagai orang tua (parenting) secara optimal. Salah satunya adalah pemahaman bagaimana manusia bertumbuh dari fase ke fase berikutnya, serta bagaimana di setiap fase ada keunikan cara belajar yang tidak mungkin dipaksakan (Life-span Development & Learning). Pengetahuan spesifik ini sangat berguna untuk bisa menyesuaikan pembelajaran yang masih dilakukan di rumah kepada anak-anak sesuai umurnya. Pemahaman lain adalah tentang Pendidikan dengan segala elemennya untuk memfasilitasi anak menuju suksesnya masing-masing, khususnya bagaimana mengukur kemajuan pembelajaran pada situasi seperti ini, saat rapor dan ijazah semakin  menurun nilainya. Dua hal ini hanya sedikit dari pengetahuan yang harus dimiliki para orang tua.

HEART (HATI)

HEART adalah sikap hati dalam menjalankan perannya sebagi orang tua. Keluarga modern memang memiliki pola hidup yang cenderung melempar tanggungjawab Pendidikan anak kepada sekolah dan lembaga agama. Baik ayah maupun ibu lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah dan meluangkan waktu yang makin sedikit untuk terhubung dengan anak-anaknya. Ketika pandemi melanda dunia tahun 2020 yang lalu, dan kegiatan di luar rumah dipaksa berhenti, lalu seluruh anggota keluarga dipaksa juga untuk terkurung di rumah, serta tanggungjawab pendidikan anak-anak beralih Sebagian besar ke orang tua; maka sikap hati para orang tua belum siap dan banyak yang menolak dengan berbagai alasan. Dan ketika Pemerintah mengumumkan pembelajaran tatap muka akan dimulai segera (dan berkali-kali dibatalkan karena situasi kesehatan publik), orang tua merasa lega dan ingin segera “membuang” anak-anaknya ke sekolah lagi—walaupun akhirnya kecewa karena pembatalan berkali-kali. Ketika dirinya tidak (belum) dapat menerima peran “baru” ini secara berkepanjangan, maka kondisi kesehatan mental orang tua akan terganggu sampai kepada Tindakan yang dramatis dan irasional. Di sinilah para konselor profesional bisa mendukung kesehatan mental para orang tua.

HAND (TANGAN)

            HAND artinya ketrampilan dalam menjalankan peran “baru” sebagai orang tua demi dan agar anak-anak tidak menjadi generasi terhilang tapi generasi gemilang. Implikasinya adalah kebutuhan orang tua (dirasakan atau tidak, disadari atau disangkali) untuk dilatih supaya trampil. Program parenting yang memiliki kurikulum sistematis dan pelaksanaan yang ekstensif (Life Span Development Approach) merupakan contoh yang sangat krusial untuk ada. Pengalaman penulis sebagai pendidik selama 35 tahun menujukan bahwa di Indonesia, ketrampilan spesifik ini bahkan tidak dimiliki oleh sebagaian besar para guru di sekolah-sekolah kita ketika guru juga harus berperan sebagai orang tua pengganti. Akibat yang kita rasakan adalah tingkat stress siswa atau anak yang menjurus ke frustasi. Penyebabnya adalah minimnya ketrampilan menyesuaikan pendekatan peran orang tua kepada proses anak bertumbuh, belajar, dan cara mengukur kemajuan prosesnya. Contoh lain adalah ketrampilan mendidik anak untuk mengembangkan kapasitas akademik anak bagi jenjang pendidikan selanjutnya yang ujungnya untuk kehidupan masa depannya (education for life). Untuk ketrampilan ini lebih berfokus kepada bagaimana memakai macam-macam metode pengajaran sehingga ketertarikan (excitement) anak bertumbuh dan tetap terjaga.

Sistem Pendukung Yang Perlu Dikembangkan

            Sistem adalah sebuah kelengkapan banyak elemen yang bekerja bersama sebagai bagian dari jaringan yang saling terhubung (interconnecting network) dalam sebuah kerangka kerja yang terorganisasi. Sebuah sistem adalah kelompok entitas yang saling berinteraksi dan terhubung satu dengan yang lainnya sebagai suatu keutuhan. Co-Schooling merupakan sebuah sistem yang sangat dibutuhkan para orang tua pada saat ini dan segera harus dikembangkan. Elemen-elemen yang diharapkan berinteraksi, terhubung, bekerja sama dalam sebuah sistematis adalah Pemerintah, Gereja, Sekolah, dan orang tua. Masing-masing elemen memiliki kompetensi dan bagiannya masing-masing.

            PEMERINTAH diharapkan bisa menjalankan bagiannya dalam menyiapkan kebijakan, peraturan, bahkan insentif untuk mendorong terciptanya Co-Schooling. Tentunya Kementrian Pendidikan merupakan lembaga terkait, namun tentunya tidak terbatas hanya satu Kementrian. Ketika berbicara tentang lembaga agama, dalam hal ini Gereja, maka yang berwenang adalah Kementrian Agama – Bimas Kristen Protestan dan Katolik. Fokus Pemerintah seharusnya sudah beralih dari sekedar status akademis lewat evaluasi belajar yang diseragamkan, kurikulum nasional yang berlebihan dan membunuh keunikan lokal, maupun regulasi yang tidak masuk akal dan memaksa. Hal lain yang diharapkan adalah pendanaan yang non-diskriminatif dan yang menurut Undang-undang Pendidikan Nasional dialokasikan 20% dari APBN dan jumlahnya lebih dari 500 Trilyun Rupiah itu.

            GEREJA tentunya harus ikut bermain dalam sistem Co-Schooling ini. Selain bertanggungjawab atas spiritual formation (strategi, proses, dan kurikulumnya) dari anak-anak, Gereja harus memperluas pemahaman pelayanannya untuk orang tua dan anak-anaknya menuju sebuah Chaplaincy Ministry yang focus kepada holistic wellbeing. Mungkin hal ini merupakan hal baru yang belum diakomodasi oleh STT atau Seminari yang ada di Indonesia karena kurikulum mereka “dipenjara” oleh Departemen Agama & Pendidikan Tinggi. Selain itu juga keahlian di bidang Family Study & Therapy sangat diperlukan. Sekali lagi hal ini belum diakomodasi kurikulum Pendidikan tinggi. Infrastruktur juga dalam kemampuan Gereja untuk dipersembahkan bagi pelayanan orang tua. Digital Platform Management bisa diarahkan kepada Ministry Management System (MMS). Hal ini memerlukan diskusi lanjutan yang spesifik dan teknis.

            SEKOLAH tentunya merupakan pihak yang dianggap paling ahli tentang pendidikan, sehingga kurikulum nasional, collaborative lesson planning, materi pengayaan kurikulum, dan administrasi akademis bisa menjadi cakupannya. Pendidik sekarang tidak boleh berpikir bahwa dirinya merupakan satu-satunya yang harus bertanggungjawab dan orang tua hanyalah merepotkan (walau kenyataannya orang tua yang sekarang direpotkan). Pembagian kerja dalam sistem Co-Schooling memang masih harus didiskusikan, namun pendidik harus memikirkan lebih dari sekedar menjadi artis youtube atau zoom. Educational content designer, content creator, content artist, dan content propagator harus menjadi profesi yang mulai dipikirkan.

            Pihak terkahir adalah ORANG TUA yang menjadi subyek system ini, namun bukanlah subyek yang pasif. Inisiatif dan keberanian untuk belajar hal baru menjadi kwalitas yang akan mengkondisi terciptanya sistem Co-Schooling ini demi sebuah Generasi Gemilang, dan bukan Generasi Terhilang!!!

S.E.M.O.G.A……..!

09 April 2021

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D.

(Education Specialist, Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *