CO-SCHOOLING: Apa yang (SE)HARUS(NYA) Dilakukan Gereja Dalam Menghantar Anak Menjadi Generasi Gemilang?

Artikel ini merupakan lanjutan dari beberapa artikel yang membangun pemahaman dan mendorong gerakan menuju Co-Schooling. Diawali dengan artikel yang mendorong orang tua mengarahkan diri kepada paradigma baru – “Parenting Toward The New Normal” (https://bit.ly/Par2NewNorm), lalu konsep menyeluruh tentang “Co-Schooling” dan bedanya dengan persekolahan yang lain (https://bit.ly/co-schooling), dan dilanjutkan dengan mengulas kebutuhan orang tua akan sistem pendukung – “CO-SCHOOLING: Apa yang Dibutuhkan Orang Tua Dalam Menghantar Anak Menjadi Generasi Gemilang?” (https://bit.ly/CO-SCHOOLING-Ortu). Sekarang tiba saatnya kita mendiskusikan peran Gereja di dalam Co-Schooling.

Situasi Gereja Saat Ini

            Pada Agustus 2020, penulis mengunggah sebuah artikel dengan judul “Bertahan Hidup Di Era Baru: Refleksi Bagi Komunitas Iman Kristen” (https://bit.ly/surviving-new-era). Dalam artikel itu ada beberapa pertanyaan reflektif yang menggambarkan kegalauan para pimpinan Gereja atau komunitas iman Kristen. Kelihatannya beberapa kegalauan itu masih ada bahkan makin membesar saat ini.

            Dengan kondisi kesehatan publik yang tidak menentu, praktek ibadah belum jelas kapan akan pulih seperti dulu. Akibatnya, sesuai dengan peraturan di lokal masing-masing, persekutuan secara fisik menjadi maju-mundur sehingga kegalauan masih “terpelihara”. Repotnya para pimpinan Gereja masih berharap bisa kembali ke normal lama dan zona nyaman mereka sebelum pandemi tanpa menyadari bahwa semua sudah berubah dan tidak bisa Kembali karena sudah melewati “titik tidak bisa balik” (point of no return).

Misalnya saja pertanyaan tentang identitas Umat Allah. Apakah kita masih memakai identitas “umat Allah” lama yang mengacu pada sinode, aliran, keanggotaan gereja, tradisi Kristen tertentu, tata gereja, cara bergereja dan bersakramen, gaya ibadah dan musiknya, atau status serta jabatan gerejawi dengan semua atribut tampilan pakaian (toga, stola, dll.)?

Berikutnya kita perlu menjawab siapa sebenarnya sekarang yg memegang kepemimpinan aktual atas umat Allah? Apakah Pendeta, Penginjil, Majelis/ Pengurus gereja, Ketua Sinode, Rektor seminari, atau para “artis youtuber” yang belakangan ini berkeliaran di dunia maya? Apakah tata gereja dan struktur organisasi gereja dan sinode masih bisa dipakai sebagai acuan kendali dan arahan kepemimpinan umat Allah? Bagaimana seminari dan sekolah tinggi Teologi mengantisipasi ini? Apakah mereka tetap dengan paradigma lama dan hanya memindahkan pelajaran ke panggung daring?

            Lalu, apakah kita masih mau mempertahankan tata ibadah kita yang lama? Bagaimana kita memisahkan praktek-praktek yang non-negotiable dari praktek-praktek yang non-essential dalam tata ibadah kita? Apakah kita masih harus melekat pada tata ibadah lama untuk sakramen, gedung gereja fisik sebagai pusat ibadah, persembahan, persekutuan jemaat, katekesasi, dan kemajelisan/ kepengurusan gereja? Bagaimana kita mengabarkan Injil dan memuridkan? Apa ukuran pertumbuhan gereja ketika para umat bersliweran di dunia maya? Bagaimana mendeskripsikan keanggotaan gereja pada masa depan?

            Selanjutnya, apakah kehidupan umat Allah dan termasuk penghidupan para hamba Tuhan masih mempertahankan cara lama? Bagaimana mengatur ulang cash flow dan pendanaan agar semua umat sejahtera dan tidak melupakan mereka yang melayani di rumah Allah? Bagaimana membantu para umat untuk memasuki jaman baru dengan cara mencari nafkah yang baru pula? Apakah kita sekedar membiarkan mereka karena pemahaman yang compartmentalized antara sacred dan non-sacred vocations? Bagaimana para hamba Tuhan bisa melayani dengan penuh hati jika mereka tidak diijinkan mencari nafkah dari luar gereja yang biasanya dianggap bukan kategori pelayanan? Apakah kitab oleh berdagang di dalam gereja?

            Sementara yang terakhir, apakah kita membiarkan masyarakat umum dan khususnya komunitas umat Allah secara natural membentuk equilibrium baru norma bermasyarakat? Apakah kita atau gereja siap dan mampu melakukan social engineering (rekayasa sosial) menuju terbentuknya tata masyarakat baru yang lebih Kristiani; mumpung dis-equilibrium masih berlangsung?

Yang (Se)Harus(nya) Dilakukan Gereja

            Gereja juga merupakan pihak yang menjadi korban pandemi Covid-19 ini. Tidak ada seorangpun di dunia yang siap menghadapi pandemi ini. Maka sangat dipahami bila para pemimpinnya juga mengalami kebingungan, kegalauan, bahkan sampai berhalusinasi dengan berharap situasi akan kembali seperti sediakala dan “normal”. Di dalam situasi seperti ini, ada yang berusaha berinisiatif, namun tanpa pemahaman dan ketrampilan cukup sehingga berakibat fatal dan menjadi boomerang bagi umat Allah.

Berikut beberapa usulan.

  1. Menghilangkan Ego-Sinodal dan Mulai Membuka Diri Untuk Berkolaborasi.

Kolaborasi merupakan kebutuhan dan sekaligus belum menjadi “talenta” gereja-gereja di Indonesia khususnya. Persaingan antar gereja merupakan semangat untuk bertumbuh dan berkembang, namun sayangnya tidak akan membuat umat Allah secara global juga bertumbuh baik secara kwalitas maupun kwantitas. Jika dulu gereja bersaing membangun gedung, memperbanyak jumlah jemaat yang hadir dalam kebaktian-kebaktian yang diadakan, menambah jumlah cabang-cabang gereja di seluruh Nusantara; maka sekarang perlombaan itu berpindah ke rana digital dengan mengukur “berkat” Tuhan di tengah pandemi dengan jumlah followers di akun-akun media sosial gereja maupun pribadi (apalagi jumlah followers bisa diuangkan). Fokus pelayanan kembali meleset dari pemberdayaan umat Allah secara individu dan secara komunal.

Adalah elok di hadapan Tuhan jika para pemimpin gereja belajar rendah hati untuk memberdayakan gereja lain demi gereja tersebut dan bukan demi sinodenya atau dirinya pribadi. Ada jebakan berbahaya sepanjang jaman yang sudah diwaspadai oleh Rasul Paulus dan disampaikan kepada yuniornya, Timotius (https://bit.ly/Danger3Lovers). Semoga kita tidak terjebak kembali ke dalamnya. Dan untuk itu sangat diperlukan keberanian dan kerendahan hati untuk membuka diri dan merelasi lintas denominasi dan sinode, sampai kepada organisasi-organisasi para-church yang biasanya dianggap bukan emtitas “rohani”.

  1. Memperlengkapi Gereja Dengan Keahlian-keahlian Yang Nyata dibutuhkan

Berkali-kali Alkitab mengingatkan komunitas umat Allah bahwa mereka dipanggil untuk menggenapi kehendakNya di dunia ini, dan panggilan tersebut disertai dengan pemberdayaan dengan “segala yang baik” untuk misi penuntasan kehendak Allah tersebut (Efesus 4:12; 1 Petrus 1:3; Ibrani 13:21). “Segala yang baik” mencakup semua talenta, keahlian, dan ketrampilan yang dimiliki oleh orang-orang yang berbeda (bukan satu atau dua orang saja) dalam komunitas umat Allah. Sayangnya ada tendensi peran dan jabatan gerejawi dibatasi hanya di dalam tembok gereja dan seminari. Status “hamba Tuhan” hanya diberikan pada lulusan STT dan jabatan “Pendeta” dibatasi pada mereka yang ditahbiskan atau yang menahbiskan diri sendiri.

Di dalam teologi ada pernyataan bahwa “semua kebenaran adalah kebenaran Allah”. Implikasinya adalah segala bidang ilmu yang muncul dari scientific inquiries (pencarian ilmiah) adalah asalnya dari Allah dan harus dihargai sama dengan teologi. Demikian juga dengan keahlian yang bermacam-macam itu harusnya dipakai untuk memperlengkapi umat Allah dalam menuntaskan kehendakNya. Bahkan pada situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini, keahlian-keahlian di luar apa yang dihasilkan seminari atau STT, sangat diperlukan untuk melanjutkan eksistensi komunitas umat Allah. Sebagai contoh dalam rangka konsep Co-Schooling sebut saja keahlian-keahlian di bidang pendidikan, digital platform management, terapi keluarga, psikologi, e-commerce/ digital economy, wellbeing ministry, dan lainnya. Di titik inilah semua STT atau seminari harus menginovasi program gelar mereka dan memohon Departemen Agama RI mendukung mereka untuk persetujuan Dinas Pendidikan Tinggi Kemendikbud-ristekdikti.

  1. Mentransformasi Struktur Pelayanan Gerejawi

      Gereja sebagai organisasi sudah terlalu lama memakai struktur pelayanan berdasarkan jenis kelamin dan tingkat usia (Komisi Anak, Remaja, Pemuda, Dewasa, Manula; lalu Komisi Wanita, Pria, Pasutri; dll.). Pola pelayanan seperti ini tersegregasi sehingga seakan-akan setiap kelompok usia dan jenis kelamin hanya dibatasi pada jenis pelayanan-pelayanan tertentu saja. Misalnya anak-anak tidak perlu belajar bermisi, atau tidak perlu belajar menjaga Kesehatan seperti para manual. Ada ketidak-sinkronan antara struktur organisasi berdasarkan usia dan jenis kelamin dengan bidang-bidang kehidupan Kristiani yang seharusnya utuh atau holistik.

      Ketika pandemi menghantam dan sudah lebih dari setahun belum terlihat ujung akhir situasi darurat kesehatan publik seperti sekarang ini, maka tidak ada pilihan bagi gereja kecuali mentransformasi struktur pelayanannya supay setiap kelompok usia dan jenis kelamin bisa terlayani dan bertumbuh secara holistik. Gereja tidak lagi bisa fokus hanya kepada kerohanian dan model pelayanan tatap muka fisik dalam kelompok kecil atau besar. Semua opsi dan bidang keahlian harus dipertimbangkan agar komunitas umat Allah bisa mencapai kepenuhan hidup. Artinya inovasi demi inovasi harus dilakukan dan dievaluasi. Harus ada semacam ministry management system (MMS) untuk mengoptimalkan pelayanan bagi umat Allah. MMS ini harus mengkombinasikan pelayanan lewat panggung daring digital (on-line) dan lewat pertemuan luring (on-site). Blended Ministry seperti itu idealnya menerapkan digital platform management untuk hasil yang optimal.

  1. Membangun Kesengajaan & Segera Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan)

Ketika kita berbicara tentang komunitas umat Allah secara global, maka gereja merupakan organisasi lokal yang memiliki kapasitas untuk berinisiatif dalam memimpin semua umat menuju transformasi. Sebagai organisasi, gereja juga memiliki kepemimpinan dan sistematis yang sudah ada sejak lahirnya. Maka inilah saatnya gereja membangun intentionality (kesengajaan) dan menyusun rencana tindakan nyata di tengah kebingungan para umat. Kembali kepada konsep Co-Schooling, gereja bisa memimpin semua konstituen dengan melibatkan berbagai keahlian yang dibutuhkan untuk mendoakannya, menggumulkannya, dan mendiskusikannya untuk bergerak maju sebelum generasi anak-anak kita menjadi generasi yang “terhilang”.

Kesengajaan diperlukan supaya satu pihak dan yang lainnya tidak saling menunggu, selain kedaruratan kondisi anak-anak kita yang tidak bisa menunggu. Rencana Tindakan juga bukan berarti memutlakan sebuah formula, namun mengusahakan seraya didoakan dan dievaluasi untuk efisiensi dan optimalisasi hasil Pendidikan anak-anak generasi ini menuju generasi gemilang.

12 Mei 2021

Ishak S. Wonohadidjojo, Ed. D. (Education Specialist, Veteran Pendidik Kristen; ishak@suhonggo.net)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *